Varian Delta Perparah Kondisi Suriah

Covid-19 varian Delta merebak di antara pengungsi Suriah. Hampir separuh pengungsi dinyatakan positif usai menjalani tes PCR. Kemiskinan bahkan telah membuat mereka sulit membeli masker guna mencegah penularan virus.

covid 19 di pengungsian suriah
Ilustrasi. Covid-19 varian Delta merebak di pengungsian Suriah. (AA/Muhammed Said)

ACTNews, SURIAH – Kasus Covid-19 yang merebak di berbagai belahan dunia, kini turut meresahkan pengungsi di Suriah. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Kamis (14/10/2021), di Suriah ada lebih dari 37 ribu kasus positif Covid-19. Jumlah tersebut juga diikuti dengan kasus kematian yang mencapai lebih dari 2.000 kasus.

Meningkatnya kasus dalam beberapa bulan terakhir, disebabkan virus yang menyebar adalah varian Delta yang dikenal lebih mudah menular dan menyebar dengan cepat. Hal tersebut diperparah karena tindakan pencegahan penyebaran virus kurang optimal.

Menurut organisasi medis setempat, sebagian besar kasus baru telah terkonsentrasi di kota Salqin dan Harem, di provinsi Idlib barat. Di mana jumlah kasus yang dilaporkan telah meningkat 14 kali lipat pada bulan September. Bahkan organisasi tersebut juga mencatat ada rekor kasus harian tertinggi yang mencapai 1.417 kasus per hari.

Idlib menghadapi tantangan besar dalam menghadapi pandemi Covid-19 karena banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang rusak selama konflik.

Pada bulan Juni, sebuah rumah sakit di Kota Afrin hancur karena serangan. Peristiwa itu merenggut sedikitnya 18 orang, termasuk empat pegawai rumah sakit. Sementara pada Maret lalu, rumah sakit Atareb, yang melayani seluruh penduduk pedesaan di Aleppo barat sudah tidak berfungsi.

Selain rumah sakit, kesulitan air bersih juga menjadi faktor Suriah kesulitan mengendalikan Covid-19. Hampir satu juta pengungsi internal (IDP) tinggal di kamp-kamp padat di dekat perbatasan Suriah-Turki di Idlib utara yang tidak memiliki akses air. Sekitar 40-50 persen tes PCR yang dilakukan di daerah pengungsian positif sejak pertengahan Agustus.

Banyak kasus dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia tiga tahun. Sementara itu, sejumlah rumah sakit terpaksa meminta pasien menunggu sebab ruangan penuh.

“Kasus meningkat, kematian terjadi setiap hari, dan beberapa kasus terjadi pada mereka yang masih muda. Sebagian besar kasus juga menimpa mereka yang tidak divaksinasi. Kami menghadapi kesulitan dalam mendapatkan oksigen, serta kesulitan dalam menangani peningkatan jumlah kasus,” ujar Farouk Kishkish, direktur medis salah satu rumah sakit di Suriah.

Sementara itu, salah satu pengungsi Suriah di Idlib, Rama Saifo mengatakan, kemiskinan parah yang membelenggu pengungsi Suriah sangat berpengaruh pada tindakan pencegahan penularan Covid-19. Mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli masker.

“Situasi kebanyakan orang, termasuk para pengungsi, sangat sulit. Banyak pengungsi yang tidak memilih membeli masker.” ujar Saifo.

Menurut Saifo, banyak pengungsi yang menganggap solusi terbaik untuk krisis ini adalah vaksinasi massal. Namun nyatanya, vaksinasi masih berlangsung lambat. Membuat kekhawatiran lonjakan kasus positif ke para pengungsi masih berlangsung.[]