Wakaf Dermawan Hadirkan Kapal Nelayan Terbesar di Gaza

Arsitek dari kapal ini, Mohammed Zoorob menyatakan, kapal ini akan menjadi salah satu kapal terbesar yang ada di Gaza. Secara keseluruhan, panjang kapal mencapai 21 meter dengan lebar 6 meter.

wakaf kapal ikan palestina
Proses pembuatan Wakaf Kapal Ikan Palestina. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Bantuan dermawan untuk Palestina, telah ACT wujudkan ke berbagai program bantuan kemanusiaan. Kini, Wakaf Kapal Ikan Palestina tengah dipersiapkan untuk sejumlah nelayan di Gaza.

Arsitek dari kapal ini, Mohammed Zoorob menyatakan, kapal ini akan menjadi salah satu kapal terbesar yang ada di Gaza. Secara keseluruhan, panjang kapal mencapai 21 meter dengan lebar 6 meter.

“Lima belas nelayan berpengalaman kami targetkan mendapat manfaat dan bekerja di kapal penangkap ikan ini. Keluarga-keluarga para nelayan juga akan terbantu jika ada anggota keluarganya yang bekerja di sini," ujar Zoorob, Selasa (21/9/2021).

Sementara itu, Jommah Al Najjar, tim ACT Palestina di Gaza mengatakan, para nelayan yang berkesempatan menggunakan kapal ini adalah mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera. Di mana pekerjaan mereka terdampak blokade di Gaza dan memengaruhi penghasilannya.

Jommah menjelaskan, kapal ini sudah melalui proses pengecekan rangka kapal oleh Kementerian Kelautan Palestina, dan diizinkan untuk terus dilanjutkan pengerjaannya. Dalam beberapa waktu ke depan, karoseri material fiberglass dan pemasnagan mesin akan segera dilakukan di pelabuhan Almoasy Khan younis di wilayah selatan Gaza. Diperkirakan, pembuatan kapal ini akan rampung di akhir tahun 2021.

"Terima kasih banyak kepada dermawan dan tim ACT di Indonesia atas pendirian dan dukungannya untuk rakyat Palestina. Semoga kebaikan kalian dibalas keberkahan oleh Allah SWT," ucap Jommah.

Untuk diketahui, nelayan di Gaza telah hidup serba kesulitan di bawah blokade di Gaza. Zona menangkap ikan dibatasi oleh zionis Israel. Berimbas ke nelayan yang hanya mampu menangkap ikan dengan jumlah terbatas. Minim pemasukan, membuat nelayan tak hanya sulit menghidupi keluarganya, tapi juga melakukan perawatan kapal. Banyak kapal yang akhirnya dibiarkan rusak karena mereka tak memiliki biaya untuk membeli suku cadang kapal.[]