Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa

Dengan urgensi yang ada, wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi tertinggi dalam Islam dapat mengakomodasi kebutuhan pangan selama pandemi Covid-19, terutama bagi masyarakat prasejahtera dan rentan yang paling terpukul oleh guncangan ekonomi.

Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa' photo
Pembicara Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan Global Wakaf-ACT bersama YP3I. (Dari kiri ke kanan) Sekretaris Jenderal YP3I dan Gema Petani sebagai Moderator Muhammad Yusuf Misbah, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah KH Mahfudz Syaubari, Presiden Global Islamic Philanthropy Ahyudin, Pengurus YP3I Marzuki Ali, Pengusaha dan Pengurus YP3I Marzuki Heppy Trenggono, Pengurus YP3I Haryadi. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA - Dampak signifikan dari pandemi Covid-19 mulai menyoroti bagaimana pangan dan pertanian tetap mampu mendukung kebutuhan bangsa. Ketahanan pangan menjadi isu yang diseriusi, bahkan masuk ke dalam pembahasan saat Hari Pangan Sedunia tahun ini. Berbagai langkah disusun untuk mempertahankan akses kepada makanan yang aman dan bergizi sebagai bagian penting dari respons terhadap pandemi Covid-19. 

Dengan urgensi yang ada, wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi tertinggi dalam Islam dapat mengakomodasi kebutuhan pangan selama pandemi Covid-19, terutama bagi masyarakat prasejahtera dan rentan yang paling terpukul oleh guncangan ekonomi. Pengelolaan wakaf secara produktif diyakini dapat menggerakkan sistem ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan masyarakat luas. Kehadiran wakaf pun kemudian dapat memenuhi kebutuhan primer dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi entitas sosial. Lainnya, aset wakaf yang berupa tanah dapat menjadi salah satu pendukung untuk menggenjot ketersediaan pangan ke depan. 

Tantangan menjawab kebutuhan pangan, Global Wakaf - ACT telah meluncurkan program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) yang juga memberdayakan petani lokal. Para petani akan diberikan modal berupa bibit dan pupuk, kemudian hasil panennya akan kembali dibeli ACT dengan harga terbaik. Program MPPI ini ternyata disambut baik oleh Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani). Kerja sama ini rencananya akan membantu penggarapan lahan sekitar 1.500 petani di lahan seluas 500 hektare di Jawa Timur.

“Jadi insyaallah, Global Wakaf – ACT bersama dengan YP3I dan Gema Petani akan membuat proyek pertama 500 hektare sawah padi. Program kerja sama ini didanai seluruhnya oleh dana wakaf. Lalu kemudian, kita punya program wakaf pangan, dari sawah ini nanti padi masuk ke Lumbung Beras Wakaf. Gabah akan digiling, yang hasilnya nanti insyaallah akan didistribusikan kepada masyarakat, termasuk petani yang belum sejahtera,” ungkap Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap Ahyudin dalam acara diskusi kebangsaan bertajuk “Wakaf, Energi Kedaulatan Pangan Bangsa”, Kamis (29/10).

Ahyudin juga menjelaskan bahwa era peradaban itu telah terjadi sejak fase Islam berkembang di Madinah. Pada masa itu, masyarakat diberdayakan secara ekonomi dan sosial melalui wakaf hingga mendapatkan kedaulatan yang paripurna. Sehingga, apabila dikelola dengan baik, wakaf akan menciptakan peradaban yang tinggi dan baik pula di masa sekarang. 

“Wakaf bisa mendorong manusia untuk saling mandiri, memberi, dan mencontoh keteladanan umat terdahulu dalam bermasyarakat dan bernegara. Wakaf juga termasuk instrumen keuangan tertinggi dalam sistem keuangan karena berdampak pada tujuan ekonomi dan sosial. Jika ekonomi umat tercipta dengan sangat baik, dan kehidupan sosial antar manusia itu tercipta, maka itulah cikal bakal peradaban. Mari gerakkan wakaf dan kita perjuangkan kedaulatan pangan umat. Insyaallah, jika umat berdaulat dengan pangan, maka umat akan mandiri, punya harga diri, dan bebas dari kemiskinan,” tambah Ahyudin.


Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin menjelaskan, apabila dikelola dengan baik, wakaf akan menciptakan peradaban yang tinggi dan baik pula di masa sekarang. (ACTNews/Reza Mardhani)

Produktivitas lahan wakaf menjadi jalan yang bisa diwujudkan dan produksi pangan ke depan bisa dikembangkan. Tentunya dengan kolaborasi antara nazhir wakaf, korporasi dan ahli dalam bidang pertanian. Maslahat lahan wakaf dalam komoditas pangan juga dapat membantu para petani terlepas dari sistem ijon. Dengan memangkas sistem ijon dan kolaborasi antar penggerak, tentu akan membantu stabilitas harga di masyarakat karena mampu memangkas proses niaga yang panjang dan merugikan. Sehingga, harga beli ke petani sangat layak dan harga jual ke masyarakat juga terjangkau.

K.H. DR. Mahfudz Syaubari selaku pimpinan YP3I dan Gema Petani turut menyambut positif adanya kolaborasi ini. “Alhamdulillah kita sebagai tuan rumah, yakni Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, sangat bersyukur menjadi bagian kerja sama ini. Kita berharap bahwa, kerja sama ini nanti bisa betul-betul dirasakan oleh umat. Khususnya di tengah-tengah krisis dikarenakan pandemi global saat ini. Mudah-mudahan kehadiran Global Wakaf – ACT dengan YP3I ini bisa membantu menangani dan memberi solusi kepada umat khususnya di bidang ketahanan pangan,” ungkapnya.

Karena besarnya kekuatan wakaf ini, KH. Syaubari mengajak kepada masyarakat untuk semakin menggerakkan wakaf secara luas. “Yang perlu kita luruskan sekarang ini dan perlu kita kampanyekan, bahwa wakaf itu tidak hanya sekadar di 3M: madrasah, masjid, dan makam. Tetapi, ada kekuatan ekonomi yang bisa digerakkan oleh wakaf produktif yang saat ini dimotori dan telah dilakukan oleh Global Wakaf – ACT. Alhamdulillah, ada pertanian yang didanai dari dana wakaf, ada rumah sakit, ada penggilingan gabah dan lain sebagainya. Ini suatu terobosan, bisa mengatasi problem yang ada di umat,” tutup K.H. Syaubari.

Kolaborasi ini sekaligus menjadi perwujudan nyata dari gerakan “Bangkit Bangsaku” dimana semangat kegotongroyongan dan optimisme menjadi bahan bakar dalam menjalani masa darurat akibat pandemi Covid-19. []