Wakaf, Jalan Ketenangan dan Menebar Manfaat bagi Sukri

Sukri (45) menemukan ketenangan karena berwakaf. Menurut pengusaha restoran, pertanian, dan pariwisata di Aceh itu, berwakaf mengurangi kekawatirannya mengemban amanah harta dari Allah SWT.

Sukri (45) mewakafkan saham senilai Rp100 juta dan lahan kurma. Komitmen itu ia sampaikan pada acara Waqf Economics Forum di Banda Aceh, Kamis (1/4/2021). (ACTNews/Yudha Hadisana)

ACTNews, BANDA ACEH – Menjelang akhir acara Waqf Economics Forum dari Global Wakaf-ACT di Banda Aceh, Sukri (45), seorang pengusaha, mengikrarkan wakaf saham sebesar Rp100 juta dari salah satu usaha kulinernya. Ia juga mewakafkan kebun kurma–yang ia kelola bersama kawannya–seluas enam hektare atau senilai sekitar 2,3 milyar.

Ditemui usai acara, Kamis (1/4/2021), Sukri menceritakan salah satu alasannya berwakaf. Sukri yakin, manfaat harta yang ia wakafkan akan lebih panjang dibandingkan usianya.


Sukri (kiri) dan Mahdi Muhammad dalam serah terima lahan kurma seluas enam hektare. (ACTNews)

Menenangkan hati

Berwakaf menjadi salah satu jalan menemukan ketenangan Sukri. Bagi pengusaha restoran, pertanian, dan pariwisata ini, memegang harta tidak sepenuhnya membawa bahagia. Ada rasa takut ketika mendapatkan amanah harta tersebut.

“Sebelum kita berwakaf, ada rasa was-was. Jangan-jangan harta kita ini diperebutkan oleh istri dan anak kita. Namun, setelah berwakaf, hati kita menjadi tenang. Alhamdulillah, sebagian harta kita telah kita wakafkan. Insyaallah itu bisa membersihkan seluruh harta kita. Juga bisa menyejahterakan (masyarakat) yang lain,” terang Sukri.

Sukri paham bahwa wakaf bersifat produktif. Ia berharap, wakafnya dapat memberdayakan para penerima manfaat. “Saya berharap agar wakaf yang kita berikan ini bisa semaksimal mungkin memberdayakan masyarakat, khususnya di Aceh. Ini hanya titik awal. Insyaallah ke depan, lebih banyak wakaf-wakaf lain yang bisa kami salurkan,” pungkas Sukri.  []