Wakaf Modal Usaha Bantu Omzet Usaha Tania Meningkat Hingga Rp10 Juta

Di awal pandemi Covid-19, Tania Permatasari (34) hampir putus asa dan berhenti berjualan karena modal jualannya tidak pernah kembali. Namun, Allah mempertemukan Tania dengan kebaikan dermawan melalui bantuan modal usaha Global Wakaf-ACT. Omzet usaha Tania naik sepuluh kali lipat.

Tania membangkitkan usahanya setelah pandemi.
Tania Permatasari (34), penerima bantuan modal usaha yang kini berjualan dimsum beku. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Kondisi ekonomi di awal pandemi sempat membuat Tania Permatasari (34) hampir putus asa. Usaha dimsum di pinggir jalan wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan, nyaris bangkrut. Berhari-hari, penghasilan yang bisa ia dapat hanya Rp20 ribu. Ia pun masih menumpang di gerobak milik teman. Belum lagi, selama seharian berdagang, tania harus meninggalkan anak-anaknya.

“Saya ssempat terpikir berhenti berdagang. Selain modal tidak bertambah dan berputar, yang paling membuat saya sesak adalah tidak ada kawan berbagi cerita saat itu,” cerita Tania ketika tim Global Wakaf-ACT menemuinya, Selasa (13/4/2021).

Tanpa disangka, saat momen terpuruk itu, pintu rezeki Tania terbuka. Salah satu kawan mengenalkan Tania pada Global Wakaf-ACT yang saat itu memiliki program Sedekah Usaha Mikro Indonesia. Dari program tersebut, ia mendapat sedekah modal senilai Rp500 ribu.


Penerima Wakaf Modal Usaha Mikro Global Wakaf-ACT Tania Permatasari, penjual dimsum di wilayah Jagakarsa. (ACTNews)


Sejak pertemuan itu, usaha Tania berkembang. Ia kemudian mendapat bantuan modal Wakaf Usaha Mikro Indonesia dengan sistem qardh al hasan. Rushan Novaly dari Tim Global Wakaf-ACT menjelaskan, qardh al hasan merupakan bentuk pinjaman tanpa imbalan yang diberikan Global Wakaf-ACT.

Selain bantuan modal, Tim Program Global Wakaf-ACT juga memberikan pendampingan bagi Tania, baik dari segi usaha maupun spiritual. 

“Saat fase pendampingan itulah tercetus ide membuat dimsum dalam bentuk makanan beku. Setelah dicoba, pelanggan Tania bertambah drastis. Produk dimsum beku juga mencegah kerugian yang besar. Omzet bulanan yang sebelumnya hanya Rp1 juta, dalam dua bulan pendampingan bisa naik hingga Rp10 juta. Ia pun ia ingin menambah modal lagi untuk kebutuhan pesanan di bulan Ramadan yang sudah mulai ramai,” cerita Rushan, Kamis (15/4/2021). Belum selesai, Tania juga ditantang oleh pendamping Global Wakaf-ACT untuk meningkatkan omzet hingga Rp12 juta dalam satu bulan.

Membuka usaha baru

Keuntungan yang kini diperoleh Tania sebagian disisihkan untuk menambah modal. Ia membeli seperangkat alat pengemas, produk dimsumnya kini menjadi lebih higienis dan lebih tahan lama. Tabungan dari hasil penjualan ia gunakan untuk memulai usaha warung kelontong.

Saat ini, Tania menyulap rumahnya menjadi tempat usaha. Sebagian untuk usaha warung kelontong, sebagian untuk menyimpan dimsum beku, dan sebagian lagi untuk memajang sisa usaha pakaian yang pernah ia lakukan dulu. 

“Di luar sana, masih banyak pelaku usaha yang hampir putus asa akibat keterbatasan modal dan pengetahuan usaha yang masih minim. Mari salurkan bantuan modal usaha bagi para pelaku usaha mikro melalui Global Wakaf-ACT bersama Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia, semoga kita bisa menyaksikan munculnya Bu Tania-Bu Tania berikutnya,” harap Rushan.[]