Wakaf Produktif: Instrumen Langit Pengentas Kemiskinan

Wakaf Produktif: Instrumen Langit Pengentas Kemiskinan

Wakaf Produktif: Instrumen Langit Pengentas Kemiskinan' photo

ACTNews, JAKARTA - Selama ini, mayoritas masyarakat Indonesia menganggap wakaf hanyalah berupa wakaf makam atau wakaf masjid. Padahal dalam prakteknya secara luas, wakaf dapat dijadikan instrumen pengentasan kemiskinan. Manfaat dari wakaf yang produktif mampu membangun kesejahteraan umat secara bertahap. Hal ini  sebagaimana disampaikan Ahyudin selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Menurut Ahyudin, manfaat dari produktivitas wakaf dapat terus mengalir kepada masyarakat karena proses dan hasil produksinya akan kembali kepada masyarakat. Pada Senin (18/3) lalu, Ahyudin mengemukakan secara lebih mendetail pandangannya terkait wakaf produktif.

Seperti apa wakaf dalam pandangan Anda?

Sejatinya wakaf itu memang produktif, ya. Jadi bukan bukan wakaf kalau tidak produktif. Oleh karena itu ini adalah instrumen langit, instrumen rabbaniyah untuk sebuah solusi bagi persoalan keumatan yang besar. Bukan persoalan keumatan yang bersifat mikro. Kalau persoalan-persoalan kehidupan keumatan yang bersifat mikro, bisa dengan instrumen zakat misalnya, atau sedekah.

 

Apa fokus Global Wakaf dalam pengelolaan wakaf produktif?

Wakaf produktif itu menurut kami di Global Wakaf-ACT, dimensinya ekonomi. Bukan produktif namanya kalau tidak ekonomi. Oleh karena itu, wakaf di Global Wakaf itu bukan wakaf kuburan, wakaf sekolah, bukan wakaf masjid dan seterusnya yang sifatnya tidak produktif. Artinya, produktif itu sifatnya lahiriyah yang menjamin kebermanfaatan bisa terus mengalir. Sedangkan misalnya program membuat masjid, membuat sekolah itu program pemanfaatan dari hasil wakaf itu.

Sejauh mana jangkauan manfaat program-program Global Wakaf-ACT?

Dalam hal ini Global Wakaf tentu akan mendistribusikan manfaat wakaf untuk bantuan pangan masyarakat miskin, akan memberikan mendistribusikan manfaat wakaf itu untuk pendidikan masyarakat miskin, kesehatan masyarakat miskin, perumahan masyarakat, bahkan sampai infrastruktur masyarakat miskin. Seluas itulah kira-kira gambaran manfaat dari produktivitas wakaf itu. Jika manfaat wakaf itu tergambar sebesar dan seluas itu, maka korporasi wakaf itu juga harus besar. 

Global Wakaf-ACT juga tengah mengembangkan aset wakaf di Sumbawa, bagaimana progresnya?

Di Sumbawa, tepatnya di desa Labangka, kami membuat program Kawasan Wakaf Terpadu. Di situ, alhamdulillah dengan spirit wakaf yang kita punya, waktu yang sangat cepat dengan dukungan kas wakaf untuk yang mengalir kepada Global Wakaf-ACT, kami bisa sesegera mungkin dalam 6 bulan ini bisa membuat satu pabrik jagung di kawasan 3.500 hektare. Kawasan itu dikelola oleh 1.200 kepala keluarga. Pabrik ini sudah berdiri dan alhamdulillah kapasitas produksinya 50.000 ton. Jadi seperti itulah kira-kira kapasitas program wakaf yang semestinya ditampilkan. Di sana bukan hanya pabrik jagung yang dikelola melalui program Lumbung Pangan Wakaf (LPW), tapi juga kita punya Lumbung Ternak Wakaf (LTW). Kita mendapatkan 45 hektare (lahan) dari seorang wakif di Sumbawa di atasnya ada sekitar 550 ekor sapi. Jadi terpadu, dan peternakan wakaf ini sebelumnya sudah berjalan hampir 5 tahun. Jadi bukan bukan permulaan kita menggarap itu.

Bagaimana proyeksi pengembangan Kawasan Wakaf Terpadu ini?

Insyaallah sebanyak 50.000 ton jagung. Karena dikelola oleh tim yang profesional di bidang bisnis jagung, akan meraih keuntungan yang cukup untuk bisa melayani beneficiaries semasif mungkin. Jadi kami di Sumbawa dengan satu pabrik jagung ini rasa-rasanya insyaallah akan membantu tidak kurang dari 10.000 kepala keluarga, baik kebutuhan pangannya, pendidikannya, kesehatannya. Ada korporasi yang berupa pabrik jagung dan peternakan, tapi juga ada program penyaluran manfaat dari korporasi wakaf itu. Kami di sana mengembangkan pendidikan, kita beri nama sekolah wakaf. Kami juga sedang akan membuat klinik wakaf, membuat Humanity Distribution Center (HDC) untuk menjamin bantuan pangan untuk masyarakat miskin. Jadi begitulah kira-kira satu program wakaf produktif yang sedang kami inisiasi di Desa Labangka, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Harapan terkait pengembangan wakaf di Indonesia?

Harapannya masyarakat bisa tertarik dan memiliki animo, memiliki ghiroh untuk berwakaf. Karena sejatinya amalan-amalan yang lebih Allah cintai dari amalan harta itu adalah adalah wakaf. Karena wakaf itu akan mengalirkan pahala berkesinambungan. Berbeda dengan zakat atau infak biasa. Sekali lagi posisi wakaf itu adalah alat, akibat. Sebabnya adalah kemiskinan. Karena hadirnya kemiskinan maka wakaf harus dijadikan sebagai instrumennya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali