Wakaf Produktif untuk Kesejahteraan Umat

Wakaf Produktif untuk Kesejahteraan Umat

GlobalWakaf, JAKARTA -  Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah konferensi wakaf internasional yang bertajuk "Wakaf dan Pertumbuhan Ekonomi (Waqf and Economic Growth)". Konferensi dan seminar yang diselenggarakan selama dua hari di Jakarta, mulai Rabu (9/11), tersebut menjadi pertemuan antara para cendekia dan praktisi wakaf dari dalam dan luar negeri, ulama, institusi pemerintahan, hingga lembaga wakaf, termasuk Global Wakaf Foundation.
 
Konferensi dan seminar wakaf internasional pertama di Indonesia tersebut menyoroti sejarah perkembangan wakaf di berbagai negara Islam di dunia hingga dampaknya pada kesejahteraan umat. Selain itu, konferensi tersebut juga menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman implementasi wakaf di berbagai negara.
 
Sudah sejak lama wakaf memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ekonomi suatu negara. Saat ini, beberapa negara berpenduduk Muslim seperti Turki, Kuwait, Bangladesh, bahkan Singapura, telah sukses mengimplementasikan pengelolaan wakaf melalui investasi properti. Menariknya lagi, di negara-negara tersebut, praktek wakaf kian berkembang dan menjadi penggerak ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

 

Di Indonesia sendiri, praktek wakaf sudah berlangsung selama ratusan tahun. Namun demikian, dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat masih dirasa minim karena tidak maksimalnya pengelolaan wakaf. Beragam kendala menjadi latar belakang tidak maksimalnya pengelolaan wakaf di Indonesia, mulai dari regulasi wakaf yang masih lemah, kualitas nazir yang kurang memadai, hingga trend implementasi wakaf di Indonesia yang masih pada ranah wakaf lahan. 
 
"Ya, satu dekade silam praktek wakaf di Indonesia hanya sekitaran wakaf lahan, rumah ibadah, atau pemakaman umum. Padahal, wakaf itu banyak sekali jenisnya. Belum lagi jika pengelolaan properti wakaf tersebut belum maksimal karena minimnya pengetahuan Nazir misalnya, tak jarang properti wakaf yang terlantar atau tidak produktif sebagaimana mestinya," ungkap Asep Saipudin, salah satu anggota Badan Wakaf Indonesia yang mengisi plenary session pada konferensi tersebut. 
 

Wakaf Produktif untuk Kesejahteraan Umat
 

Di berbagai negara Islam di dunia, konsep wakaf produktif telah berkembang luas dan implementasinya pun menunjukkan dampak yang signifikan. Berbagai jenis wakaf produktif seperti rumah sakit, sekolah, perkebunan, saham, dan uang tunai yang bisa diwujudkan menjadi berbagai bentu wakaf lainnya.
 
Bahrain misalnya, Central Bank of Bahrain mengelola dana wakaf yang diamanahkan oleh 20 bank syariah yang terdaftar pada CBB. Dana wakaf tersebut digunakan untuk membiayai program pendidikan keuangan syariah demi kemajuan keuangan syariah di negara tersebut. Di Jordania, wakaf tunai juga ada yang dimanfaatkan untuk pembiayaan sarana dan prasarana pendidikan di universitas-universitas negeri. 
 
Sementara di Arab Saudi, wakaf tunai dimanfaatkan untuk pembangunan Mekah dan Madinah. Pengembangan proyek-proyek masjid, hotel, perumahan penduduk, dan trade center dilakukan dengan memanfaatkan wakaf tunai. 
 
Di Indonesia, wakaf produktif mulai menggema pada pertengahan era 2000-an. Peraturan-peraturan mengenai wakaf produktif mulai ditetapkan dan gerakannya pun mulai disosialisasikan oleh Badan Wakaf Indonesia. Perlahan, lembaga-lembaga pengelola wakaf mulai mengimplementasikan wakaf produktif, tak terkecuali Global Wakaf.

Sejak 2014, Global Wakaf telah resmi menjadi Nazhir wakaf (pengelola wakaf). Donasi wakaf yang diterima dikelola dalam berbagai bentuk wakaf produktif dengan tujuan membantu masyarakat umum dalam pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus dapat memberdayakan mereka sehingga lebih produktif dan berdaya.
 
Melalui program-program wakaf produktifnya seperti wakaf properti, wakaf tunai, wakaf saham, wakaf pangan, wakaf pendidikan, wakaf kesehatan, dan wakaf ekonomi produktif, sebanyak lebih dari 22 ribu penerima manfaat di Indonesia dan dunia dapat merasakan kemudahan akses terhadap aspek-aspek vital kehidupan. []

Penulis: Dyah Sulistiowati
 

Tag

Belum ada tag sama sekali