Wakaf Saham Kuatkan Filantropi Islam

Selain wakaf tunai, wakaf saham yang disalurkan menjadi wakaf produktif berpotensi meningkatkan peran filantropi dan maslahat untuk masyarakat.

Wakaf Saham Kuatkan Filantropi Islam' photo
Head of Strategic Global Wakaf Aditya Pratama memaparkan fungsi Global Wakaf sebagai nazir yang mengelola sejumlah aset wakaf untuk keperluan filantropi dalam lokakarya Pasar Modal Syariah “Wakaf saham sebagai wakf produktif di Indonesia” di Bursa Efek Indonesia Jawa Barat, Jumat (6/12). Global Wakaf meyakini wakaf saham berpeluang meningkatkan manfaat filantropi. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, BANDUNG – Wakaf saat ini tidak lagi identik dengan istilah “3M”: masjid, madrasah, dan makam. Sejalan dengan visi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sedang mengembangkan pasar modal syariah sebagai pilihan investasi di Indonesia, wakaf saham diperkenalkan sebagai salah satu inovasi kepada para investor. “Para investor tetap dapat mendapatkan return, tetapi juga melakukan kebaikan dengan mewakafkan asetnya atau hasil keuntungan,” kata Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI Irwan Abdalloh, Jumat (6/12).

Irwan memaparkan, saham yang bisa diwakafkan antara lain saham yang diperdagangkan di bursa. “Syarat pertama, harus saham syariah,” imbuhnya.

Selain saham, Irwan menjelaskan, objek wakaf dapat berupa nominal dari saham yang diwakafkan. “Kalau nazir menganggap yang harus diwakafkan sahamnya, maka yang dicatat (sebagai) wakaf adalah lot saham. Namun, jika nazir menganggap saham terlalu berisiko karena, misal, aset yang tidak dapat diubah, maka bisa dicatat (sebagai wakaf) nilai nominalnya,” terang Irwan.

Menurut Irwan, model wakaf saham yang ada di Indonesia berbeda dengan wakaf saham yang telah ada di dunia. Jika di negara lain, wakaf saham lebih dekat dengan wakif korporasi, di Indonesia wakaf saham bisa dilakukan oleh investor yang tidak memiliki saham terlalu banyak.

“Tidak semua orang bisa menjadi wakif. Di negara lain, wakaf saham disalurkan oleh korporasi. Sedangkan, model bisnis yang sedang dikembangkan BEI adalah mewakafkan saham-saham yang diperdagangkan di bursa,” jelas Irwan. Inovasi ini pun digadang Irwan dapat memfasilitasi investor dengan jumlah saham berapa pun untuk menjadi wakif.

 

Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia Irwan Abdalloh menjadi pembicara utama dalam lokakarya Pasar Modal Syariah “Wakaf saham sebagai wakaf produktif di Indonesia” di Bursa Efek Indonesia Jawa Barat, Jumat (6/12). (ACTNews/Yudha Hadisana)

Tren ini pun digaungkan kepada investor-investor muda. Menurut Irwan, pangsa pasar Indonesia 68 persen adalah anak muda. Sebab itu, BEI berharap dapat memberdayakan para investor muda. “Coba kita bayangkan, sejak muda sudah memiliki aset, lalu semakin banyak, kalau sudah terbiasa berwakaf, maka potensi wakaf juga akan semakin besar,” jabar Irwan. Keuntungan investor yang diwakafkan dan dikelola produktif juga menjadi salah satu peran nyata pasar modal syariah dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

Namun, kata Irwan, produktivitas wakaf saham atau keuntungan wakaf saham juga bergantung pada nazir yang mengelola. Maslahat wakaf saham dalam filantropi juga dipengaruhi upaya nazir memanajeri aset wakaf.

Global Wakaf sebagai nazir pun berharap wakaf saham dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Aditya Pratama se Head of Strategic Global Wakaf memaparkan, saham atau pun hasil keuntungan dari saham dapat dikelola menjadi secara produktif. “Global Wakaf sebagai nazir mengelola aset wakaf melalui program-program wakaf produktif, antara lain Lumbung Ternak Wakaf, Lumbung Pangan Wakaf, dan Ritel Wakaf. Kemudian hasilnya disalurkan kepada  mauquf 'alaih (penerima manfaat. Ini merupakan salah satu fungsi Global Wakaf, yaitu fungsi filantropi,” jelas Aditya.

Selain fungsi filantropi, Global Wakaf juga memiliki fungsi edukasi, ekonomi, dan reformasi. “Wakaf menjadi penyeimbang bisnis di dunia dan ibadah. Melalui wakaf, kita menyertakan Allah dalam bisnis kita,” pungkas Aditya.[]

Bagikan