Wakaf, Salah Satu Kunci Hadapi Pandemi

Melalui wakaf, masyarakat bekerja sama mengembangkan aset produktif. Aset-aset yang telah berkembang ini kemudian dapat menopang kehidupan masyarakat, terutama pada masa pandemi seperti sekarang di mana kebutuhan pokok sulit terpenuhi.

Produksi Beras Wakaf di Lumbung Beras Wakaf, Blora, Jawa Tengah. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Di masa awal pandemi, seluruh masyarakat terkejut. Rumah sakit kesulitan menampung pasien, bahkan beberapa bangunan yang tadinya bukan rumah sakit bahkan disulap untuk merawat pasien. Pembatasan sosial berskala besar berlaku, namun banyak masyarakat yang menjerit karena tak bisa memenuhi kebutuhan hariannya lagi akibat terbatasnya aktivitas.

Kondisi ini mengingatkan Komisaris Global Wakaf Corporation Imam Teguh Saptono, akan kondisi yang berbanding terbalik di masa lalu. Pada 981 M, sebuah rumah sakit bernama Al-Adudi berdiri di Baghdad. Tidak hanya yang paling megah di Baghdad saat itu, tetapi rumah sakit ini juga melayani pasiennya dengan luar biasa.

“Di sana ceritanya satu rumah sakit itu di-backup oleh one village land of agriculture. Jadi satu rumah sakit itu di-backup oleh satu hamparan pertanian. Apa yang bisa dibuat oleh rumah sakit saat itu? Satu, pasien tidak perlu membership. Dua, siapa yang sakit tidak ada biaya sedikit pun. Warga negara, bukan warga negara, ataupun musafir. Dan apabila mereka sembuh lalu ketahuan mereka prasejahtera, maka diberikan modal untuk berusaha,” cerita Imam pada Kamis (7/5) kemarin.

Pada saat itu tidak hanya Rumah Sakit Al-Adudi, tetapi setiap rumah sakit didukung oleh unit produksi yang berlandaskan wakaf dari masyarakat. Kekuatan kolektif masyarakat ini yang akhirnya mendukung peradaban tersebut untuk terus maju.


Seorang lansia yang menerima Beras Wakaf melalui Program Operasi Beras Gratis. (ACTNews)

Inilah yang sedang dirintis oleh Global  Wakaf – ACT. Misalnya Lumbung Pangan Wakaf selama pandemi ini selalu melayani masyarakat melalui Operasi Pangan Gratis. Aset-aset yang diberikan masyarakat dari Lumbung Pangan Wakaf pada akhirnya kembali ke masyarakat juga.

“Sehingga mereka tidak lagi berorientasi semata-mata pada keuntungan kapitalis, tetapi sudah menjadi milik umat. Dan bukan tidak mungkin pada kondisi normal, aset-aset wakaf ini bisa berproduksi sebagaimana layaknya aset bisnis. Tapi bedanya, pada saat kondisi normal, keuntungannya terakumulasi menjadi milik umat untuk membangun aset wakaf lainnya. Itu bedanya konsep kapitalisme dan pendekatan wakaf,” tutur Imam.


Lewat momen pandemi ini, Imam berharap masyarakat bisa sadar dan membangun kembali aset wakaf mereka. “Justru dalam kondisi seperti ini, harapannya adalah kita mulai lagi menyadarkan masyarakat sebagai pilar ekonomi umat. Karena tidak lain wakaf itu membicarakan tentang kemampuan untuk bertahan. Membicarakan kapasitas apabila terjadi
shock. Apabila terjadi shock yang berkaitan dengan pandemi, kita bicara tentang fasilitas kesehatan, bicara tentang pangan,” ujar Imam.

Harapan Imam sejalan Ustaz Haikal Hassan atau yang akrab disapa dengan Babe Haikal. Ia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu berharap dengan pemerintah dan mulai bergerak dengan usaha mereka sendiri.

“Maka dari itu, siapa lagi kalau bukan dari kita, untuk kita? Saya dan Global Wakaf – ACT mengambil peran itu. Kita punya Lumbung Beras Wakaf, kita punya Lumbung Ternak Wakaf, kita punya Lumbung Air Wakaf, kita punya Lumbung Pangan Wakaf. Nah suara ini, bertepatan dengan momen Covid-19 dan Ramadan ini, mesti kita gaungkan seterusnya agar semua jadi melek,” ujar Babe Haikal. []