Wakaf Uang yang Bernilai Abadi

Sejatinya, nilai wakaf adalah abadi. Namun banyak masyarakat di Indonesia yang beranggapan bahwa wakaf adalah aset dan benda, dan belum akrab dengan wakaf uang.

Seorang petani sayur di Jakarta Selatan sedang mencangkul bidang tanah yang akan digunakan untuk menanam bibit bayam. Permodalan lahan ini didukung juga oleh program Wakaf Modal Usaha Mikro. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, MALANG – Wakaf bernilai abadi. Oleh karenanya, publik Indonesia umumnya beranggapan bahwa wakaf mesti berupa aset atau benda yang kegunaannya dapat bertahan lama. Hal tersebut tidaklah salah, namun demikian banyak masyarakat yang kemudian tidak familiar dengan wakaf uang karena dianggap tidak bersifat abadi.

Menurut Dr. Ahmad Jalaludin LC. MA., Pendakwah sekaligus dosen S2 ekonomi syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, yang harus dipahami dari kata "abadi" adalah nilai dari uang tersebut, bukan uang itu sendiri. Pemahaman ini kemudian yang menurutnya menjadi ganjalan bagi wakaf ini untuk lebih dikenal masyarakat.

“Artinya kalau saya wakaf uang Rp1 juta, bukan dimaknai uang dengan nomor seri inilah yang harus abadi. Tetapi secara nilai. Saya kira ini problem budaya dan minimnya sosialisasi yang terkait dengan pemahaman objek wakaf secara luas. Edukasinya harus masif di tengah-tengah masyarakat, bahwa wakaf tidak hanya benda, tetapi bisa juga wakaf uang. Dan wakaf uang ini tidak hanya uang yang berujung pada benda, tetapi uang untuk kepentingan-kepentingan produktif,” jabarnya.

Lebih jauh lagi, Ustaz Jalaludin membagi wakaf uang menjadi dua jenis. Ada wakaf uang untuk pengembangan aset, ada wakaf uang untuk pengembangan investasi. “Tetapi ini masih baru. Meskipun demikian gerakannya cukup masif di Indonesia,” katanya.

Wakaf uang inilah yang pada praktiknya akan membangun korporasi masyarakat. Sebuah sistem ekonomi di mana bukan hanya berfokus pada keuntungan individu, tapi mengutamakan kepentingan bersama.


Gubuk di tengah sawah, tempat para petani Desa Ciptamarga beristirahat. Di desa ini, beberapa petani menjalankan lahannya dengan bantuan Wakaf Modal Usaha Mikro. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Korporasi muslim harus berbeda dengan korporasi kapitalis. Kalau kapitalis, korporasinya elitis, yang terjadi itu tarkitsu atsarwa (penguasaan kekayaan) dari hulu sampai hilir dikuasai oleh individu. Tetapi kalau dalam Islam karena konsep orang bekerja adalah bagaimana memelihara kekayaan umat, maka kekuatan yang dibangun adalah kekuatan korporasi yang bukan elitis, tetapi populis,” demikian Ustaz Jalaludin menjabarkan konsep distribusi kekayaan dalam Islam pada helatan Waqf Business Forum pada Ahad (22/11) lalu.

Kebermanfaatan inilah yang sedang diikhtiarkan oleh Global Wakaf – ACT. Dengan dana wakaf masyarakat misalnya, Global Wakaf – ACT membantu para pengusaha kecil yang terdampak pandemi lewat program Wakaf Modal Usaha Mikro. Bantuan tersebutlah yang kemudian menopang para pengusaha mikro dapat kembali menjalankan usahanya.


“Ternyata dalam perjalanan 3 bulan ini, sudah hampir 10.000 orang kita berikan modal dari wakaf tunai yang mengalir ke Global Wakaf – ACT. Pada saat bank tidak memberikan pembiayaan, pada saat rentenir siap menyergap umat ini. Jadi kita tidak ingin wakaf hanya menjadi narasi yang hebat dikatakan,” jelas Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina ACT.

Potensi perkembangan tersebut dapat dari umat Islam yang banyak yang menguasai UMKM saat ini. Di antara banyak bangkitnya umat di bidang ekonomi, ada juga yang sudah berjihad melalui hartanya untuk berwakaf. “Alhamdulillah saat ini sudah hampir 1.000 perusahaan turut ikut dalam Global Wakaf, untuk mewakafkan sebagian sahamnya untuk kepentingan umat,” ujar Ahyudin. []