Walau Dagangan Lengang, Zakiya Tak Patah Arang

Sebagai ibu tunggal, Zakiya kini berjuang sendiri membesarkan kedua anaknya semenjak suaminya meninggal dunia 5 tahun lalu. Kebutuhan mereka terpenuhi dari warung kelontong yang mereka dirikan di depan rumah. Namun belakangan, penghasilan warung tersebut jauh menurun sehingga Zakiya membuka usaha lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Zakiya sedang melayani para pelanggan warungnya. (ACTNews/Qeis Muhammad)

ACTNews, JAKARTA – Sudah 5 tahun belakangan Zakiya berjuang sendirian semenjak suaminya meninggal dunia. Warga asal Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan ini mesti terus berjalan membesarkan kedua anaknya yang yang masing-masing masih duduk di bangku SMP dan SD. Sebuah warung kelontong kemudian dibukanya di depan rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia tidak dapat memperkirakan pendapatan dari adanya warung kelontong ini, “Kalau lagi rame, ya rame, kalau lagi sepi ya, sepi,” singkat Zakiya. Tetapi semenjak pandemi, hanya sepi yang dirasakan Zakiya. Bahkan ia pernah dalam satu hari hanya mendapatkan Rp20 ribu. “Benar-benar sepi banget. Jatuh banget, deh,” ujar Zakiya, Jumat (18/9).


Sadar usahanya tidak berjalan baik, Zakiya mulai mencari jalan lain. Berbekal alat-alat masak, ia akhirnya bisa berjualan sosis dan seblak untuk memenuhi kebutuhan harian. Ditambah minuman-minuman segar, membuat anak-anak sering berkunjung ke warungnya.

“Aku coba aja dulu, pelan-pelan. Alhamdulillah sampai sekarang berjalan. Biasanya yang beli warga sekitar, sama aku suka promo-in di teman-teman di grup WhatsApp, teman-teman di sekolah (anak), misalnya diajak mampir. Nanti dia promo lagi ke temannya yang lain,” jelas Zakiya.


Sate sosis yang kini dijual Zakiyah. (ACTNews/Qeis Muhammad)

Baru berjalan satu bulan, rezeki tidak disangka-sangka menghampiri Zakiya lewat masjid. Di Masjid Jami Asy Syakirin, tempat anak Zakiya mengaji, sedang bekerja sama dengan Global Wakaf – ACT dalam program Wakaf Modal Usaha Mikro. Ia pun menjadi salah satu penerima modal pada acara yang dihelat Jumat (4/9) silam.

“Aku baru belanjain separuh, karena kan baru kemarin. Aku beliin barang-barang untuk dagang sosis, seblak sama minuman. Kalau warung sih, belum. Karena kemarin juga masih ada (stok), aku belanja sebelumnya. Bagus banget, (programnya) membantu. Jadi yang kekurangan modal bisa dapat tambahan modal. Kalau yang punya warung, kelihatannya sepi, jadi terisi lagi. Yang beli semangat, karena lihat warungnya banyak isinya,” tutur Zakiya.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Albar dari Tim Program ACT Jakarta Selatan juga mengajak para dermawan untuk terus mendukung para pelaku usaha mikro yang saat ini menghadapi tantangan penjualan dan permodalan karena pandemi. ”Kami mengajak para dermawan untuk membantu pelaku usaha kecil yang kendala permodalan melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro. Terutama mengingat saat ini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali berlaku di Jakarta. Mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Albar. []