Walikota Banda Aceh Apresiasi Penyelenggaraan Workshop Mitigasi Bencana ACT

Walikota Banda Aceh Apresiasi Penyelenggaraan Workshop Mitigasi Bencana ACT

Walikota Banda Aceh Apresiasi Penyelenggaraan Workshop Mitigasi Bencana ACT' photo

ACTNews, BANDA ACEH – Kota Banda Aceh memiliki sejumlah riwayat terdampak bencana gempa besar dalam kurun waktu dua dekade terakhir. Paling teringat dalam ingatan kolektif masyarakat dunia tentu adalah gempa dan tsunami besar Aceh dan Samudera Hindia 12 tahun silam. Kala itu, Gempa subduksi berkekuatan 9,3 SR yang terjadi pada 26 Desember 2004, disertai tsunami dahsyat setinggi 30 meter, mengakibatkan tragedi yang sangat memilukan. Tidak kurang 260 ribu jiwa lenyap digulung tsunami terbesar abad 21. Kerugian materi ditaksir tembus triliyunan rupiah. 

Selain potensi gempa subduksi yang terus mengintai, Kota Banda Aceh diapit dua jalur patahan yang berpotensi menyebabkan gempa darat, yaitu Patahan Sumatera (Sumatera fault) dan Patahan Seulimeum (Seulimeum Fault). 

Untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut, Tim Disaster Management Institute of Indonesia/DMII-ACT bersama Sampoerna untuk Indonesia menggelar Pelatihan dan Workshop Sistem Komando Tanggap Darurat (SKTD) selama 3 hari dari Senin-Rabu, 20-22 Maret 2017. Acara tersebut digelar di Auditorium RRI Banda Aceh, dengan dihadiri 80 orang peserta berasal dari Perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah/SKPD, dunia usaha dan unsur masyarakat.

“Bagi Sampoerna Untuk Indonesia, program pelatihan ini merupakan salahsatu wujud tanggungjawab sosial kami. Dengan program pelatihan ini, diharapkan ada semangat bersinergi di lingkup kota Banda Aceh, baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Jadi kami ikut berkontribusi dalam membangun Kota Banda Aceh yang tangguh terhadap bencana,” ujar Ervin Pakpahan, perwakilan dari Sampoerna untuk Indonesia.  

Melalui pelatihan ini diharapkan seluruh elemen masyarakat Kota Banda Aceh mempunyai kapasitas penanggulangan bencana di Kota 'Serambi Mekah’ ini, hal tersebut diutarakan Syuhelmaidi Syukur, Senior Vice President ACT, usai mengisi Pelatihan SKTD, Rabu (22/3).     

Output dari pelatihan ini adalah adanya peningkatan kapasitas para stakeholder penanggulangan bencana Kota Banda Aceh, di fase tanggap darurat. Ada SKPD terkait, ada Lembaga lokal yang memiliki concern terhadap penanggulangan bencana, khususnya gempa bumi, akademisi, dunia usaha dan juga komunitas masyarakat. Total ada sekitar 80 orang peserta hadir di pelatihan dan lokakarya ini,” paparnya.

Apresiasi positif disampaikan Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE,  saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Workshop SKTD, Senin (20/3). “Saya mewakili Pemerintah Kota Banda Aceh, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program ini. Program ini insyaaallah akan sangat bermanfaat bagi kami dalam membangun kesiapsiagaan bencana di Kota Banda Aceh,” tuturnya.

Syuhel menambahkan, pelatihan di Kota Banda Aceh ini merupakan rangkaian ketiga dari roadshow 6 Kota di Pulau Sumatera dari Program Disaster Emergency Response Command System and Tree Planting. Setelah sebelumnya dilaksanakan di Kota Bukittinggi dan Kota Bengkulu, program ini akan berlanjut di Kota Palembang, Kota Pekanbaru, dan terakhir di Kota Pangkalpinang.

Selain Pelatihan dan Workshop, program ini juga melingkupi penanaman 2000 bibit pohon kayu dan buah, serta pendistribusian 40 bak sampah.

[] Penulis: Wahyu Novyan

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan