Warga Al-Quds Segenap Hati Menjaga Kotanya

Di bawah berbagai tekanan dan teror, warga Palestina tetap bertahan di Al-Quds. Mereka menetap tak cuma untuk menyambung hidup, tapi juga menjaga warisan Islam, Al-Aqsa.

Warga Al-Quds Segenap Hati Menjaga Kotanya' photo
Relawan Aksi Cepat Tanggap membagikan makanan kepada warga Al-Quds di Masjid Al-Aqsa pada 2017. (ACTNews)

ACTNews, YERUSALEM Yahya menetap tak jauh dari Masjid Al-Aqsa sejak tahun 1968. Ia membeli rumah dari salah satu warga yang dahulu tinggal di sana. Satu tahun berselang, Yahya menikah dan hingga saat ini telah memiliki 10 anak yang semuanya lahir di rumah itu. Tak ada kemawahan memang di rumah miliknya. Yang menjadi istimewa karena posisinya yang tak jauh dari tempat suci umat Islam, Al-Aqsa.

Di sekitar rumah Yahya terdapat rumah-rumah lain. Sayang, banyak terjadi perampasan dan pembelian paksa dari pihak Israel terhadap rumah milik warga Palestina. Kini di sekitar rumah Yahya tinggal tersisa delapan rumah saja yang masih dihuni pemilik aslinya, warga Palestina. Sisanya, telah diambil atau dibeli oleh penduduk dari Israel.

“Israel terus mengambil rumah-rumah di sini, baik dengan pemaksaan atau dengan cara halus yang mencekik pemukim warga Palestina,” jelasnya pada akhir Januari lalu.

Yahya mengatakan, tindakan Israel untuk mengambil rumah warga Palestina bertujuan untuk mengurangi jumlah warga Palestina asli. Mereka ingin membuat posisi warga Palestina semakin sempit dan tak dapat berbuat banyak untuk mempertahankan Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa. Kini, penduduk Palestina di Al-Quds sendiri semakin berkurang jumlahnya akibat perampasan tempat tinggal.

Selain perampasan rumah, pihak Israel juga melakukan teror kepada warga Palestina yang bermukim di Al-Quds. Di bagian atas lorong tempat Yahya dan beberapa warga Palestina lainnya tinggal, terdapat jaring kawat. Ia mengatakan, fungsi kawat itu untuk menghalau batu atau benda lain yang sering dilemparkan oleh pihak Israel sebagai bentuk teror agar tak nyaman tinggal di Al-Quds.

Bagi Yahya, saat ini untuk tetap tinggal di Al-Quds dan mempertahankan Masjid Al-Aqsa cukup berat. Pasalnya, selain teror juga ada tekanan secara langsung dari pihak Israel. “Tak jarang orang Israel datang ke tempat kami dan menyemprotkan cairan pestisida (pembasmi hama) ke anak-anak kami,” tuturnya.

Melaporkan ke pihak berwajib telah dilakukan Yahya dan warga Palestina lainnya saat mendapatkan ancaman dan serangan. Akan tetapi pihak keamanan Israel hanya meminta untuk berdamai saja. Namun, tindakan sebaliknya dilakukan jika yang dirugikan penduduk Israel. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah warga Palestina dan melempari dengan batu, dan tak jarang membakar rumahnya juga.

Bagi warga Palestina, memiliki rumah di Al-Quds bukanlah hal yang mudah. Selain terjadi perampasan paksa dan perusakan, mereka juga dilarang untuk merenovasi rumah mereka. “Kami tidak boleh mengubah apapun dari rumah kami (renovasi),” jelas Yahya.

Walau begitu, warga Palestina selalu berusaha untuk mempertahankan aset rumahnya di Al-Quds. Tinggal sekaligus menjaga warisan Islam, Al-Aqsa, menjadi alasannya.[]


Bagikan