Warga Gaza Hidup Bersanding Air Terkontaminasi

Warga Gaza Hidup Bersanding Air Terkontaminasi

ACTNews, GAZA – Krisis di Gaza diyakini menjadi salah satu penyebab terbesar timbulnya sejumlah penyakit. Bukan hanya soal minimnya sumber air, melainkan juga soal kualitas airnya yang telah terkontaminasi. Selain kadar garam yang tinggi, serangan ratusan kali rudal Israel sejak sengketa belasan tahun lalu menjadi salah satu pemicu utama pencemaran air di Gaza.

Pencemaran air itu terlihat di Shuja’iyya, Gaza. Salah satu penduduk setempat, Mousa Hillah (48), mengeluhkan kondisi air yang ada. Buruknya kondisi air di sana ia ketahui setelah kembali dari mengungsi.

Sebagaimana diceritakan Al Jazeera (31/10), Mousa Hillah pernah melarikan diri dari tempat tinggalnya di Shuja'iyya, Gaza, pada 2014 lalu. Ia dan keluarga mengungsi di sebuah rumah sewaan di tak jauh dari laut saat gempuran Israel meluluhlantakkan Palestina saat itu. Mereka tidak sendiri, sekitar 50 orang juga lebih memilih mengungsi ketimbang tertembak peluru-peluru Israel.

Kenyataan pahit harus mereka hadapi. Setelah keadaan dirasa aman, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah beberapa bulan setelahnya. Sayangnya, rumah yang dibangun Mousa Hillah setelah bekerja 30 tahun itu benar-benar hancur.

Kini, meski Mousa sudah kembali membangun rumahnya, sumber air di rumah itu pun tidak dapat diminum. Sesekali airnya terasa payau atau manis. Hal itu menjadi indikasi bahwa sumber air sudah terkontaminasi tangki tinja di rumahnya. Keluarga Mousa sepenuhnya mengandalkan truk air keliling untuk mendapatkan sumber air bersih.

Bukan hanya Mousa Hillah, dr. Abu Samia kepada Al Jazeera (29/10) mengatakan buruknya kualitas air menyebabkan peningkatan tajam gastroenteritis, penyakit ginjal, kanker pediatrik, marasmus dan gizi buruk pada bayi. Krisis air bersih juga berdampak pada kesehatan ratusan ribu anak di Gaza. Lapisan akuifer di tanah Gaza yang rusak parah tidak lagi mampu menyaring salinitas dan tingginya kadar nitrat di air. Mengonsumsi air yang dengan kadar nitrat yang tinggi mampu memicu terjadinya gagal ginjal dan sindrom bayi biru atau “blue baby syndrome” (methehemoglobinemia), yakni kondisi tubuh yang mengalami keracunan sebab kadar nitrat yang tinggi.

“Kami sangat sibuk. Bayi-bayi harus bertahan dari dehidrasi, dari muntah, diare, dan demam,” ungkap dr. Abu Samia.

Gaza tidak layak huni pada 2020

PBB dan sejumlah lembaga kemanusiaan memperingatkan, Gaza akan menjadi wilayah “tidak layak huni” pada 2020. Dalam laporannya mereka memaparkan, Gaza tidak dapat ditinggali sebab tidak ada lagi sistem yang baik untuk menyimpan cadangan air minum yang aman, begitu juga dengan sistem pembuangan kotoran yang tidak layak.

Catatan PBB melalui WASH Cluster menunjukkan, akses air pipa bagi penduduk Gaza hanya mencapai 70,5 liter per kapita tiap harinya. Padahal WHO merekomendasikan, akses air bersih per kapita setiap hari minimal mencapai 100 liter. Kualitas air yang buruk juga menyebabkan air lebih banyak digunakan untuk keperluan domestik dibandingkan untuk minum dan masak. Keadaan itu terjadi hampir di seluruh wilayah Gaza, tidak terkecuali Jabalia, daerah di utara Jalur Gaza yang menjadi salah satu wilayah penampungan pengungsi terbesar.

Air bersih untuk Gaza

Tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2015, Aksi Cepat tanggap (ACT) menginisiasi pembangunan sumur di daerah Jabalia Utara. Tahun-tahun berikutnya ACT mendistribusikan air minum menggunakan truk kepada penduduk setempat. Hingga pada Maret 2018, ACT menambah jumlah armada pendistribusi air minum menjadi 2 unit truk tangki air.

“ACT lah yang telah membangun sumur yang ada di hadapan kalian ini pada tahun 2015. Sebelumnya juga ACT telah melakukan pendistribusian air minum menggunakan truk untuk para warga. Dan sekarang sekali lagi ACT berupaya lagi untuk mengirimkan truk lain untuk melakukan pendistribusian air kepada orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, ke masjid-masjid, yayasan-yayasan, sekolah-sekolah dan beberapa klinik,” ungkap Wali Kota Jabalia Nazla, Ir. Abu Al-Harist, pada peresmian armada baru mobile water tank ACT Maret lalu.

Dengan adanya armada baru, pendistribusian air minum pun mampu menjangkau daerah yang lebih luas. Kini pendistribusian air minum juga menjangkau daerah Khan Younis dan daerah pemerintahan Rafah. Setiap bulan, mendistribusikan air minum ke puluhan titik di Gaza dan sekitarnya dengan penerima manfaat mencapai 720 jiwa.

Absan dan Al Balad misalnya, daerah di Khan Younis itu menerima air minum dari mobile water tank ACT setiap pekan kedua dan keempat per bulannya. Sekitar 30 meter kubik air diberikan kepada 60 penerima manfaat di kedua daerah itu.

Adanya mobile water tank ACT disambut dengan baik oleh penduduk Gaza. Fatima* salah seorang ibu di Gaza pun menyampaikan rasa syukurnya. “Tentunya kami mengucapkan terima kasih kepada ACT atas segala apa yang telah mereka berikan kepada rakyat Palestina, khususnya kepada penduduk Gaza. Kami selama ini hidup di dalam sebuah blokade yang tentunya baik penduduk di barat maupun di timur sepakat bahwa ini merupakan suatu kezaliman atas kami. Mereka ini ingin menyempitkan kehidupan kami,” ungkap Fatima.

Rasheed, seorang bocah yang menyandang dua kruk di lengannya, pun mengungkapkan syukur yang serupa. “Pertama-tama, tentunya kami mengucapkan terima kasih bagi ACT dan rakyat Indonesia. Saya bersyukur kepada Allah. Saya sangat mengenal ACT. Saya pernah mengunjungi mereka di Indonesia. Dan saya juga tahu apa yang mereka telah berikan kepada rakyat kami. Saya tahu apa saja pemberian ACT  dan program-program kemanusiaan ACT kepada warga Gaza ,” ujar Rasheed.

ACT dengan armada mobile water tank akan terus berikhtiar menjangkau daerah-daerah di Gaza dan sekitarnya yang membutuhkan air bersih. Sebab, salah satu harapan hidup di Gaza terletak pada adanya sumber air layak yang bisa dikonsumsi. []

Sumber Foto: Dok. ACT, Al Jazeera