Warga Gaza Mendamba Air Bersih

Perang membuat lingkungan di Gaza hancur. Gaza kehilangan banyak hal, bahkan sumber air bersih layak minum.

Warga Gaza Mendamba Air Bersih' photo
Warga di Gaza, Palestina, mengisi penampungan air mereka dari Humanity Water Tank ACT. Air bersih layak minum sangat sulit di dapatkan masyarakat Gaza. Sekalipun ada, harga air tinggi. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menarik slang Humanity Water Tank ke salah satu rumah warga. Keran segera diputar. Air bersih mengalir, memenuhi penampungan air warga.

Selama Oktober ini, distribusi air bersih kembali dilakukan ACT untuk penduduk Gaza. Bekerja sama dengan Kitabisa, lebih dari 380 ribu liter air didistribusikan kepada 19.400 jiwa.

“Setiap orang mendapatkan sekitar 20 liter air per harinya. Humanity Water Tank ini beroperasi enam hari sepekan dan libur pada salah satu hari Jumat, Sabtu, atau Ahad,” terang Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Humanity Water Tank beroperasi di seluruh wilayah Gaza, mulai dari Gaza Utara, Kota Gaza, Gaza Tengah, Khan Younis, hingga Rafah. Air bersih didistribusikan ke pemukiman masyarakat prasejahtera, sekolah-sekolah, masjid dan klinik, dan sarana umum lainnya.

Ada dua buah Humanity Water Tank yang dioperasikan untuk mendistribusikan air bersih di Gaza. Dua armada ini memiliki siklus kerja dua minggu. “Setelah dua minggu siklus, distribusi kembali ke daerah awal dan seterusnya,” kata Faradiba.

Otoritas Air Palestina menyatakan, sejumlah hal masih menjadi kendala besar ketersediaan air bagi penduduk Palestina, seperti rusaknya infrastruktur sumber mata air, pengolah air, kekeringan, finansial, dan penjajahan.

Di Umm al-Khair, Otoritas Air Palestina tidak diizinkan membangun kerja sama untuk menyediakan air mengalir bagi desa. Para penduduk juga tidak bisa membangun sumur. "Pemerintah Israel mengendalikan jaringan air. Mereka hanya mengizinkan orang-orang Umm al-Khair untuk mendapatkan sedikit air," kata warga Umm al-Khair Awdah Hathaleen, dikutip dari International Solidarity Movement.

“Lebih dari 5.000 tanaman thyme mati tahun ini karena masalah air,” tambah Awdah. Hingga kini, memiliki air bersih layak masih menjadi dambaan rakyat Palestina. []

Bagikan