Warga Gaza Menghabiskan Waktu di Rumah Karantina

Sejumlah warga Gaza harus menjalani isolasi mandiri selama berminggu-minggu. Sejak terdeteksi kasus Covid-19 pertama di Gaza pada Agustus lalu, jumlah infeksi virus melonjak dari dari sekitar 150 menjadi lebih dari 39.000 pada akhir Desember 2020.

Ilustrasi. Mitra Aksi Cepat Tanggap di Gaza membawa bantuan pangan untuk masyarakat Gaza. Di Tengah pandemi, mitra ACT di Gaza juga melengkapi diri dengan pakaian pelindung diri. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Lebih dari 156 ribu kasus penularan Covid-19 tercatat di Palestina per Jumat (1/1/2021). Menteri Kesehatan Mai Alkaila mengumumkan 1.450 kasus baru Covid-19, 18 kematian, dan 2.088 pemulihan di seluruh Palestina tercatat selama 24 jam terakhir.

Tidak semua pasien atau orang kontak erat bisa menjalani pengobatan di rumah sakit. Rana (14), seorang anak perempuan asal Khan Younis, misalnya, menjalani isolasi mandiri dengan ayah dan kakanya di rumah. Sudah tiga minggu Rana dan keluarganya menjalani karantina setelah berkontak dengan keluarga yang positif Covid-19. “Aku sangat takut dengan kemungkinan hal yang bisa terjadi kepada aku dan keluargaku (yang menjalani karantina). Saat ini, aku pun tidak dapat menjalani pekerjaan rumah atau kegiatan lain,” cerita Rana, sebagaimana dilaporkan Reliefweb.

Sejak awal Oktober, lebih banyak warga Gaza yang diarahkan karantina mandiri. Awalnya, keputusan ini diperuntukkan bagi penderita Covid-19 tanpa gejala atau mereka yang berkontak dengan keluarga penderita. Namun, seiring waktu, karantina mandiri juga diminta kepada orang yang menunjukkan gejala ringan, menengah, atau berulang. Sementara itu, fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, tetap tersedia untuk penderita akut.

Cerita juga datang dari Wafaa Abu Kwaik, seorang guru bahasa Inggris. Ia tertular virus korona baru bersama suami dan kelima anaknya. Abu Kwaik mengatakan dia dan keluarganya tidak menerima perawatan yang memadai. Bahkan, kondisi ibunya yang berusia 62 tahun memburuk karena hipertensi dan diabetesnya.

“Situasinya sangat sulit. Ada ratusan kasus sehari dan tidak cukup tempat tidur. Paramedis belum dapat menangani keadaan ini, dan kebanyakan orang memburuk bukan karena virus, tetapi karena kurangnya peralatan dan fasilitas medis untuk merawat mereka.” katanya.[]