Warga Kampung Nelayan dan Pemulung di Balikpapan Nikmati Syukuran Qurban

Masnah (80), salah warga RT 40, mengaku sudah bertahun-tahun tidak pernah makan daging karena tak mampu membelinya.

Warga Kampung Nelayan dan Pemulung di Balikpapan Nikmati Syukuran Qurban' photo

ACTNews, BALIKPAPAN - Hangatnya kebersamaan di antara warga RT 40 Stalkuda, Kelurahan Damai Bahagia, Balikpapan Selatan nampak jelas di raut wajah ratusan warga yang hadir. Syukuran Qurban dengan berbagai santapan olahan daging yang digelar oleh Global Qurban ACT ini merupakan kali pertama yang dirasakan warga Kampung Nelayan dan Pemulung.

Kampung RT 40 Stalkuda ini memang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan juga pemulung. Tak sedikit di antara mereka bekerja serabutan, bahkan tak memiliki pekerjaan. Keterbatasan biaya dan minimnya fasilitas edukasi rohani di kampung ini membuat para orang tua cukup kesulitan menangani pendidikan anak-anaknya. Tak sedikit di antara anak-anak mereka yang rawan terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

“Ya beginilah kondisi warga kami, dengan segala kekurangan dan keterbatasan, terutama soal pendidikan, baik pada anak maupun orang tuanya. Kami memohon maaf kepada tim Aksi Cepat Tanggap & tamu undangan bila pelayanan kami masih jauh dari sempurna, kami juga berterima kasih banyak atas inisiatifnya menyelenggarakan Syukuran Qurban ini. Jujur, saya sendiri setiap tahunnya memikirkan bisa gak ya warga sini makan daging tiap Iduladha,” jelas Musir selaku Ketua RT 40 Stalkuda.

Melalui momen seperti inilah mereka kembali bersilaturahim dan bergotong-royong, mulai dari proses penyembelihan hewan kurban, pencacahan daging, masak-memasak hingga persiapan lokasi acara. Semua menunjukkan kekompakan serta kesukarelaan antarsesama.

“Syukuran Qurban itu merupakan salah satu ikhtiar kami untuk membahagiakan sesama, khususnya yang benar-benar membutuhkan. Ini juga merupakan rangkaian acara dari kegiatan penyembelihan hewan kurban kemarin,” ungkap Andy selaku Plt. Kepala Cabang Global Qurban-ACT Kaltim.


Selain makan bersama, warga juga menerima puluhan paket daging segar hasil pemotongan hewan kurban dari Global Qurban-ACT. Tampilan rumah warga yang hanya berdindingkan tripleks hingga kumpulan spanduk bekas membuat mereka harus berpikir dua kali jika ingin membeli daging. Bahkan, di momen Iduladha seperti ini sangat jarang ada yang berkurban ataupun mendapat daging kurban di tahun-tahun sebelumnya.

Owalah Mba, kalau kami ini buat makan sehari-hari sama sambal udah bersyukur, Mba. Kalau mau beli daging ya ga cukup uangnya, lah dari mana,” ungkap Masnah (80), salah warga RT 40, mengaku sudah bertahun-tahun tidak pernah makan daging karena tak mampu membelinya.

Insyaallah ke depan ACT akan asesmen lebih lanjut terkait potensi apa yang bisa digali dan dikembangkan di kampung ini. “Ini merupakan pintu awal dari program-program kami selanjutnya. Kami sedang rancang dan insyaallah akan berkolaborasi dengan pihak aparat dan pemda setempat demi semakin berkembangnya RT 40 ini, ” pungkas Andy. []

Bagikan