Warga Merapi Kembali Mengungsi

Masih tingginya aktivitas dan terpantau mengeluarkan guguran lava membuat warga di kawasan rawan bencana Gunung Merapi kembali mengungsi. Kalangan rentan menjadi prioritas. Kini pengungsi pun membutuhkan pendampingan serta bantuan kemanusiaan.

Citra Merapi pada Rabu (6/1/2021) yang mengeluarkan guguran lava. (Twitter Badan Geologi)

ACTNews, MAGELANG – Melalui cuitannya, Selasa (5/1/2021) tengah malam, Badan Geologi menyebut bahwa aktivitas Merapi saat ini masih tinggi. Sejak pukul 18.00-24.00 WIB tercatat sudah ada 23 kali gempa guguran dengan jarak luncur guguran lava pijar diperkirakan maksimal 500 meter ke arah barat daya atau Magelang. Visual guguran lava ini pun terpantau, sehingga warga Merapi yang tinggal di kawasan rawan bencana diharapkan waspada dan diminta untuk tetap tenang serta terus mengikuti instruksi dari pihak-pihak terkait.

Di tengah masih tingginya aktivitas Merapi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, pemerintah setempat dibantu relawan gabungan, termasuk Masyarakat Relawan Indonesia-ACT yang terus siaga di area Merapi, sejak beberapa hari lalu terus mengevakuasi warga. Salah satunya ialah warga yang tinggal di Dusun Babadan 1, Kecamatan Paten, Kabupaten Magelang. Sekitar 300 jiwa dievakuasi menuju pos pengungsian Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

“Evakuasi warga memprioritaskan kalangan rentan seperti lansia, ibu hamil, orang sakit serta anak-anak,” jelas Kepala Cabang ACT Jawa Tengah Giyanto, Selasa (5/1/2021).

Selain di wilayah Magelang, pergerakan pengungsi juga terlihat di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman pada Selasa kemarin. Dilansir dari Kompas.com, penambahan pengungsi sebanyak 324 yang merupakan kelompok rentan warga Kalitengah Lor yang termasuk radius bahaya Merapi. “Sekarang (pengungsi) ini kan warga yang dari awal siaga mereka belum mau turun,” ujar Suroto, Lurah Glagaharjo.

Gunung Merapi sendiri mengalami kenaikan aktivitas dan dinyatakan masuk level III atau siaga sejak 5 November lalu. Sejak saat itu juga warga yang tinggal di zona bahaya, khususnya radius 5 kilometer dari puncak, mulai dievakuasi ke barak pengungsian yang tersebar di Sleman, Magelang, Klaten serta Boyolali. Warga ini juga lah yang sebagian sampai saat ini masih bertahan di pengungsian, dan kini jumlah pengungsi kembali bertambah.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri bersama relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) terus melakukan pendampingan terhadap warga Merapi. Posko kebencanaan, bantuan kemanusiaan serta relawan telah disebar di beberapa titik seperti Sleman dan Magelang.[]