Warga Palestina di Sheikh Jarrah Terancam Pengusiran

Mahkamah Agung Israel menunda putusan soal sengketa rumah dan tanah warga Palestina di Sheikh Jarrah pada Senin (2/8/2021), yang mana kawasan tersebut akan digusur lalu diubah menjadi pemukiman Yahudi.

Warga Palestina menggelar protes di depan Mahkamah Agung Israel setelah menunda putusan soal sengketa di Sheikh Jarrah, Yerusalem. (ANADOLU AGENCY/Mustofa Alkharouf)

ACTNews, YERUSALEM – Kehidupan warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, diambang keputusasaan. Pasalnya mereka diancam pengusiran paksa dan penggusuran oleh Pemerintah Israel, yang mana kawasan rumah warga Palestina tersebut akan diubah menjadi pemukiman Yahudi.

Awalnya Pengadilan Israel yang lebih rendah telah menyetujui penggusuran pada Januari 2021 lalu. Namun, tidak ingin berdiam diri pada keadaan, empat keluarga Palestina mengajukan banding ke Mahkamah Agung Israel atas kepemilikan tanah dan rumah mereka. Sayangnya, pada Senin (2/8/2021) Mahkamah Agung menunda putusan akhir atas banding tersebut.

“Pengadilan mendengar semua sisi kasus tetapi tidak mencapai putusan,” ungkap Sami Arshid, salah seorang pengacara keluarga Palestina, seusai sesi pengadilan. Banyak negara telah mendesak Israel untuk mempertimbangkan kembali rencana penggusuran ini.

Sementara itu, Perusahaan Penyiaran Israel mengatakan pengadilan telah mengusulkan kompromi, yaitu status sewa yang dilindungi untuk keluarga Palestina dan kemungkinkan mereka untuk tinggal di rumah sewaan.

Gugatan itu bermula dari peristiwa tahun 1948, saat ratusan ribu warga Palestina diusir secara paksa dari rumah dan tanah mereka, sebuah tragedi yang disebut orang Palestina sebagai “nakba” atau “bencana”.

Pada tahun 1956, sebanyak 28 keluarga menetap di Sheikh Jarrah. Pemukim Israel dan asosiasi ekstrimis Yahudi mengatakan, bahwa rumah-rumah itu dibangun di atas tanah yang mereka miliki sebelum Israel didirikan pada tahun 1948. Klaim itu kemudian dibantah oleh warga Palestina.[]