Warga Palestina Menjaga Kesediaan Pangan dari Atap Rumah

Okupasi membuat masyarakat Palestina melakukan berbagai cara untuk mempertahankankan kesediaan pangan. Agroekologi dari rumah ke rumah dipilih penduduk Palestina di Yerusalem untuk mendapatkan buah dan sayur berkualitas tanpa pestisida.

Warga Palestina Menjaga Kesediaan Pangan dari Atap Rumah' photo

ACTNews, TEPI BARAT – Lebih dari 700.000 warga Palestina di Kota Betlehem meninggalkan rumah dan tanah mereka setelah serangan zionis Israel terjadi pada 1948.  Mereka menetap di Kamp Pengungsian Dheisa hingga hari ini. Tujuh dekade berlalu, populasi tumbuh dari generasi ke generasi. Keberadaan sumber pangan menjadi hal yang semakin esensial di tengah pertumbuhan penduduk.

Kebanyakan pengungsi Palestina di sana awalnya petani. Namun, pertumbuhan populasi membuat mereka semakin jauh dari lahan pertanian. Padahal, lahan ini sudah mereka anggap bagian dari identitas mereka sebagai seorang petani.

“Hampir tidak mungkin membeli lahan saat ini,” aku Dragica Alafandi, pengungsi Palestina yang tinggal di Kamp Dheisa, dilansir dari Equal Times. Beberapa tahun lalu, Dragica mulai menanam tumbuhan herbal dan sayur-sayuran dengan pot di loteng rumahnya. Hal itu ia lakukan demi kesediaan pangan keluarganya.

Pada 2017, perempuan asal Bosnia yang menikah dengan laki-laki Palestina itu menerima rumah tanaman dari komunitas pertanian mikro di Deisha. Organisasi itu membantu para ibu rumah tangga menanam dan mengembangkan sayur-sayuran dari atap rumah mereka.

“Terbatasnya pasokan air membuat kami kesulitan mengatur tanaman-tanaman itu. Kami mendapatkan air setiap 10 hari sekali atau lebih, yang bahkan tidak cukup untuk 24 jam,” lanjut Draciga.

Belum lagi, menurut Draciga, intensitas serangan Israel kerap kali terjadi di sekitar kamp. “Tentara Israel menembak dan melemparkan bom gas air mata tak tentu arah hampir setiap malam. Walaupun loteng kami cukup tinggi, saya tetap punya ketakutan kalau serangan mereka merusak tanaman-tanaman itu,” imbuhnya.


Menanam sayur dan buah sendiri menjadi salah satu cara yang dilakukan warga Palestina untuk menjaga kesediaan pangan mereka yang berkualitas. “Sebagai bangsa yang berada di bawah okupasi Israel, kami membutuhkan makanan yang membuat kami lebih kuat dan lebih merdeka. Kami tak punya cukup waktu memproduksi makanan yang cukup dan kami bergantung produk Israel yang penuh pestisida,” jelas Saad Dagher, ahli agronomi yang juga petani Palestina, sebagaimana ditulis Equal Times, Kamis (19/7).

Saad menanam sekitar 100 tanaman buah dan sayuran di sebidang kecil tanah di desa Bani Zeid Timur, untuk keperluan makan keluarganya. Ia juga menjual beberapa di pasar lokal.

Saad menjelaskan, semua petani di tempat tinggalnya, Ramallah sebelah utara adalah petani sampai tahun 1970-an. “Ketika orang pertama dari desa meninggalkan ladang untuk bekerja di pabrik Israel, pada tahun 1975, masyarakat melihatnya sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina. Namun, itu adalah cara cepat untuk mendapatkan uang, yang akhirnya perlahan-lahan membuat orang-orang Palestina meninggalkan lahan mereka juga,” ungkapnya.

Bagi orang-orang Palestina, menjaga kesediaan pangan di Palestina tidak terpisahkan dari upaya memperjuangkan nasib.

Disposisi tanah di Palestina dimulai tahun 1948. Saat itu 78 persen wilayah bersejarah Palestina menjadi Israel. Sejak 1967, sisa 22 persen tanah lainnya telah dikendalikan oleh tentara Israel. Dinding pemisah perlahan memisahkan penduduk Palestina dari semua tanah pertanian dan sumber air.

Belum lagi, pembatasan pertanian yang diberlakukan oleh Israel merugikan ekonomi Palestina hingga USD 2,2 miliar dalam setahun. Hal itulah yang membuat PBB menyebut 31,5 persen populasi pangan penduduk Palestina tidak aman.[]

Sumber foto: Equal Times

Bagikan