Warga Pesisir Pangkep Nikmati Air Bersih Setelah Belasan Tahun

Selama belasan tahun, warga pesisir Pangkep menggunakan air payau untuk kebutuhan MCK dan kebersihan sehari-hari. Sulitnya sumber air bersih serta keterbatasan ekonomi menjadi penyebabnya.

Warga Pesisir Pangkep Nikmati Air Bersih Setelah Belasan Tahun' photo

ACTNews, PANGKAJENE DAN KEPULAUAN Setidaknya dalam 12 tahun terakhir warga yang tinggal di pesisir Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, atau lebih dikenal dengan Pangkep, terpaksa menikmati air payau, bahkan air asin laut. Salah satunya warga di Dusun Marangancang, Desa Tama'rupa, Kecamatan Mandalle. Mereka jarang menikmati air tawar untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus, warga menggunakan air asin.

Sumber air bersih yang sulit menjadi penyebab utama mengapa warga pesisir Pangkep sehari-hari menggunakan air asin. Salah seorang warga menuturkan, terakhir desanya mendapatkan pasokan air tawar terjadi pada 12 tahun lalu. “Ada bantuan air bersih, tapi itu sudah lama sekali,” ungkapnya, Ahad (4/8).

Di Ahad itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Selatan mendistribusikan air bersih bagi warga pesisir Pangkep. Sebanyak 5 ribu liter dikirimkan untuk 210 jiwa di Dusun Marangancang. Air bersih yang jadi kebutuhan mendesak langsung habis dalam waktu singkat.

Nur Ali Akbar dari Tim Program ACT Sulsel mengatakan, krisis air yang terjadi di pesisir Pangkep akibat sumber air tawar yang jarang. Wilayah yang berbatasan langsung dengan laut membuat sumber air tawar sangat sulit didapat. Tak hanya itu, kondisi perekonomian warga sekitar yang masih prasejahtera memaksa warga harus menggunakan air asin untuk kebutuhan sehari-hari.

“Nantinya pendistribusian air bersih ini bakal jadi program reguler, tak hanya ketika musim kemarau saja. Mendesaknya kebutuhan air  bersih di wilayah ini menjadi alasan bagi kami untuk rutin mendistribusikan air bersih di pesisir Pangkep,” jelasnya.


Air asin yang warga gunakan sehari-hari hanya untuk MCK dan kebersihan lainnya. Sedangkan untuk konsumsi seperti minum dan memasak, warga harus merogoh kocek Rp 10 ribu per drum air bersih.

Selain di Pangkep, sebelumnya ACT juga mendistribusikan air bersih bagi warga yang tinggal di pesisir Lampung pada awal Juli lalu. Ribuan liter air bersih diberikan untuk warga di Kampung Rawa Laut, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung yang kondisinya tak jauh berbeda dengan pesisir Pangkep, Sulsel.

Sumur bor yang warga pesisir Lampung gunakan, tak mengeluarkan air tawar, melainkan air payau. Untuk kebutuhan MCK, warga mengandalkan air dari sumur bor itu. Namun, Eko Ferianto, salah satu warga , mengatakan penggunaan air payau untuk mandi membuat kulit lebih kering. “Selain dari sumur, ya warga sini beli air,” ungkap Eko awal Juli lalu.[] 

Bagikan