Warga Sukajaya Mengungsi di Tenda Seadanya

Ancaman longsor masih menghantui warga di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Saat ini warga memilih mengungsi walau keadaannya serta terbatas.

Kondisi pengungsian di Kampung Sibentang, Desa Jayaraharja, Sukajaya, Bogor. Seluruh warga Sibentang kini meninggalkan kampungnya untuk mengungsi karena bencana longsor. (ACTNews/Yuda Hadisana)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Sejak pagi hujan mengguyur Desa Jayaraharja di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Ahad (5/1). Intensitasnya tak terlalu besar, namun dalam waktu yang cukup lama. Jalan beraspal menjadi basah, sedangkan wilayah tanah menjadi berlumpur.

Seperti yang terlihat saat tim ACTNews berada di area persawahan di Kampung Sibentang, Desa Jayaraharja. Di tempat ini berdiri tenda yang lebih kurang hanya berukuran 5x5 meter dan ditempati oleh lebih 100 jiwa. Mereka merupakan warga Sibentang yang permukimannya terancam longsor yang terjadi pada hari pertama tahun 2020. Ratusan jiwa ini mengungsi dengan keadaan yang serba terbatas.

Wulan salah satunya. Ibu empat orang anak ini mengungsi bersama seluruh keluarganya di tenda pengungsian itu. Ia menuturkan, di dalam tenda sangat miris, mereka harus berdesakan bersama pengungsi lainnya.

“Tenda sempit, alasnya pun cuma terpal bolong atau karung. Kalau hujan tendanya bocor dan tanah jadi becek. Kalau sudah seperti itu semua pengungsi harus berdiri biar tenda muat buat semuanya,” tutur Wulan, Ahad (5/1).

Pada Ahad siang itu, pengungsi memilih mendirikan tenda baru setelah mendapatkan bantuan terpal. Pendirian tenda pengungsian baru ini seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi. Mereka semua merupakan warga Sibentang yang pada hari kejadian bencana sedang berlibur akhir tahun di luar kota, dan kembali ke kampung halamannya dalam kondisi permukiman sudah terdampak bencana.

Di Desa Jayaraharja, terdapat dua titik pengungsian. Selain di area persawahan di Kampung Sibentang, Sekolah Dasar Negeri Sukajaya 05 di Kampung Sihuut juga dijadikan tempat mengungsi bagi sembilan kepala keluarga. Mereka merupakan warga yang rumahnya berada di daerah rawan longsor.


Tenda pengungsi di Kampung Sibentang, Jayaraharja, Sukajaya, Bogor. Satu tenda ini ditempati lebih dari 100 jiwa. (ACTNews/Eko Ramdani)

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri di Desa Jayaraharja sejak hari pertama pascalongsor telah hadir. Sebuah posko dapur umum yang tiap harinya menyuplai makanan siap santap didirikan di Kampung Gunung Koneng. Selain makanan siap santap, ACT juga mendistribusikan kebutuhan pangan bagi ratusan jiwa di beberapa kampung di Jayaraharja yang masih terisolir.

Imam Al Daffa, relawan yang berjaga di posko ACT Jayaraharja, mengatakan beberapa kampung di sana masih terisolir dan jaraknya jauh serta sulit ditempuh. Longsoran besar yang memutus jalan menjadi penyebabnya. Namun, tim ACT pada Ahad itu mencoba menjangkau salah satu kampung dan menyerahkan bantuan pangan serta pelayanan medis bagi warga terdampak.

“Ada dua akses yang bisa di tempuh untuk masuk ke Jayaraharja, yaitu melalui Kampung Gunung Koneng dan dari Desa Harkat Jaya. Tapi kedua jalur itu sekarang terputus karena longsor serta banjir bandang yang memutus jembatan,” jelasnya, Ahad (5/1).

Sampai saat ini, ACT terus mendampingi korban terdampak bencana longsor. Posko Wilayah di Cigudeg pun terus mendistribusikan paket pangan serta berbagai kebutuhan lain ke posko ACT yang ada di beberapa titik serta langsung ke pengungsian.[]