Warga Yaman: Dhamar dan Sana'a Kini Bagai Kota Hantu

Porak-poranda, sejumlah kota di Yaman bagai kota hantu. Kelaparan, kolera, habisnya bahan bakar dan sumber energi turut menjadi momok yang terus membayang-bayangi warga Yaman.

Warga Yaman: Dhamar dan Sana'a Kini Bagai Kota Hantu' photo
Anak-anak Yaman dinilai menjadi kelompok yang paling rentan di dunia. Jutaan anak Yaman mengalami gizi buruk. Perang membuat harga bahan makanan di Yaman tidak terjangkau (ACTNews).

ACTNews, SANA’A, DHAMAR – Sejumlah kota mati dan bangunan-bangunan kosong di Yaman, hingga segelintir warga di sana menyebutnya kota hantu. Hal ini karena sejak perang meledak pada 2015 silam, ada sejumlah daerah yang tidak dapat lagi dihuni karena porak-poranda. "Ada 200 orang di sini, tapi sekarang hanya hantu (saking kosongnya wilayah tersebut)," cerita Mustafa al Adel (22), sambil menunjuk ke lantai dua salah satu pusat penahanan di Dhamar, Yaman Utara, sebagaimana diberitakan The Guardian akhir September lalu.

Serangan tengah malam di Dhamar pada 1 September lalu disebut serangan paling mematikan tahun ini, Menurut Yemen Data Project, tercatat tujuh kali serangan di malam perpindahan bulan Agustus ke September itu. Sebanyak 206 warga sipil menjadi korban, 156 lainnya meninggal dunia. Sejak 2015 hingga 31 Oktober 2019, Yemen Data Project mencatat 20.273 serangan telah terjadi.

Istilah “kota hantu” sebenarnya sudah disematkan pada ibu kota Yaman, Sana'a, sejak 2015 silam. Serangan udara membuat kota itu kehilangan kehidupannya. Tidak ada listrik, bahan bakar, apalagi makanan.


Sejumlah warga Yaman mengungsi karena tempat tinggal mereka hancur terkena serangan. (ACTNews)

Badan Pangan Dunia (WFP) menyebut 15,9 juta orang di Yaman bangun dengan kelaparan setiap hari. Berdasarkan pada survei Desember 2018, Reliefweb menyatakan 76 persen total populasi Yaman menghadapi kelangkaan makanan yang mengancam jiwa.

Di sebagian besar wilayah Yaman makanan hampir habis, di beberapa wilayah pula air hanya tersedia sekali setiap dua minggu, pemadaman listrik dapat berlangsung berjam-jam sehari, belum lagi kekurangan bahan bakar yang meluas. Eskalasi kekerasan yang serius di Yaman menempatkan jutaan anak dalam bahaya.

Ancaman kematian terus menjadi hantu di Yaman, bergentayangan dalam pikiran mereka yang bertahan hidup. Bahkan, keabu-abuan masa depan anak-anak Yaman adalah hantu yang paling menakutkan. Lembaga swadaya internasional IRC bahkan menyebut, untuk mengembalikan keadaan anak-anak Yaman sebelum krisis, butuh waktu sekitar 20 tahun.


Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, menurut laporan mitra ACT di Yaman, tingginya jumlah anak-anak yang kekurangan gizi di Yaman dipengaruhi kondisi kesehatan. Kolera adalah salah satu tantangan kesehatan yang terus menghantui masyarakat Yaman.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Yaman telah mengalami dua gelombang kasus kolera selama konflik terjadi. Gelombang pertama terjadi antara Oktober 2016 sampai 26 April 2017. Saat itu, dilaporkan ada 25.800 kasus gejala kolera dan 129 kematian akibat wabah ini. Gelombang kedua terjadi pada 27 April 2017, dengan laporan 1,336 juta kasus kolera dan 2.641 kematian hingga November di tahun yang sama.

ACT pun menyediakan layanan medis gratis untuk masyarakat terdampak perang di Sana'a, tepatnya di Distrik Hamdan. “Program tersebut diperuntukkan bagi anak-anak, ibu hamil, dan menyusui,” kata Faradiba. []


Bagikan