Warna-Warna Bahagia Ketika Kurban Singgah di Kamp Malable

Warna-Warna Bahagia Ketika Kurban Singgah di Kamp Malable

ACTNews, MOGADISHU - Kebahagiaan salat Idul Adha baru saja usai menjalar di seantero Somalia, Jumat (1/9). Tanah gersang dan berdebu jadi pelengkap. Debu digilas mobil dan bajaj yang baru saja kembali dari masjid di tengah Kota Mogadishu. Lalu-lalang kendaraan di hari lebaran ini betul-betul bertambah berkali lipat dibanding hari biasa. Seperti lebaran di sudut dunia mana pun, lebaran di Mogadishu sama-sama punya cerita bahagia yang senada dan sewarna. 

Sehari penuh, tim implementasi Global Qurban untuk Somalia mengawal proses penyembelihan ratusan ekor hewan kurban di hari pertama lebaran. Sekira 250 ekor sapi kurban selesai disembelih hingga hampir sore hari. Tapi Jumat kemarin, tugas belum selesai. Puluhan ton daging sapi siap masak itu diangkut ke atas kendaraan truk berlogo Fiat, truk klasik lansiran tahun 60-an.

Sesuai rencana yang sudah disusun sejak hari sebelumnya, distribusi daging kurban di hari lebaran ini akan menuju ke lokasi kamp pengungsian Malable. Kamp tersebut merupakan satu dari ratusan kelompok kamp pengungsian yang berderet di sepanjang jalur penghubung Mogadishu dan Jowhaar.

Deretan kamp pengungsian di seantero Mogadishu

Tentang kamp pengungsian, ada satu fakta yang membikin siapa pun bergidik ketika pertama kali datang ke Mogadishu. Di Mogadishu, kamp pengungsian itu sudah seperti deretan kompleks perumahan di Indonesia. Hanya berjarak ratusan meter ada kamp pengungsian yang berselang-seling dengan bangunan permanen seperti toko, pasar, atau bangunan pemerintah. Kamp pengungsian berdiri di atas tanah berdebu, tenda terpal di bangun di atas fondasi ranting pohon. Tenda berbentuk oval, serupa rumah honai di Papua. Mungkin satu tenda hanya muat untuk 3 sampai 5 orang.

Setiap kamp pengungsian pun punya pintu gerbangnya masing-masing. Pintu gerbang dibangun untuk menandakan identitas kelompok mereka dalam kamp, juga untuk menjaga sisa-sisa barang berharga mereka yang masih bisa disimpan di dalam kamp seperti kompor, piring, atau gelas.

Mengapa kamp pengungsian bisa berderet tumpah ruah di Mogadishu? Kembali ke dua dekade silam ketika perang sipil pertama kali pecah di negeri ini. Kala itu, konflik di Somalia sampai membuat jutaan warganya mengungsi dan melarikan diri, paling dekat mereka lari ke sebuah wilayah perbatasan sebelah barat Somalia bernama Dadaab di Kenya.

Baru beberapa tahun lalu, Kamp Dadaab ditutup dan memaksa ratusan ribu sampai jutaan pengungsi asal Somalia itu kembali lagi ke negaranya. Sementara negeri mereka pun masih bangkit dari konflik panjang puluhan tahun. Akhirnya tak ada pilihan, tak ada rumah, tak ada sekolah, tak ada harta apapun yang dibawa sebagai pengungsi korban perang. Jutaan warga Somalia kembali ke negaranya dan menjadi pengungsi kembali. Tinggal di kamp-kamp beratap terpal dan ranting kayu seadanya.

Satu dari ratusan kamp pengungsian itu bernama Malable. Tim implementasi Global Qurban bergerak menuju Malable, jelang senja di hari lebaran.

Kamp Malable, warna-warni bahagia di hari lebaran

Bergegas mengejar Maghrib, sebelum gelap datang satu truk mengangkut puluhan ton daging sapi kurban amanah dari Indonesia merapat masuk ke dalam kamp Malable. Di lokasi pengungsian ini sekira 300 kepala keluarga menghidupi hari-harinya di dalam kamp yang jauh dari kata layak. Debu, kotoran, bau busuk, dan air yang keruh adalah pelengkap hari-hari di Kamp Malable.

Tapi di hari lebaran itu, sulitnya hidup sebagai pengungsi tak dirasakan oleh ratusan perempuan, ibu dan anak-anak di Malable. Baju mereka jauh lebih cerah dibanding hari biasa. Tawa mereka lepas, sumringah sekali. Apalagi ketika truk Global Qurban datang dan masuk ke dalam pintu gerbang kamp mereka. Sudah ada antrean rapi berderet warna-warni. Jilbab mereka cerah, secerah tawa mereka hari itu.

Daging sapi kurban diturunkan satu per satu dari atas truk. Sore itu angin sejuk sekali di Mogadishu, tidak ada lagi terik. Langit yang teduh seperti sudah bersepakat untuk tidak mengurangi bahagia di hari lebaran kurban.

Bambang Triyono selaku Koordinator Tim Implementasi Global Qurban untuk Somalia turun tangan membagikan bongkahan-bongkahan daging kurban ke deretan perempuan-perempuan penghuni Kamp Malable. Ucapan terima kasih diucap lewat gesture badan mereka. Kendala bahasa tidak menjadi soal karena bahagia itu universal.

Mahadsanid Indonesia, Masya Allah mahadsanid!” kata seorang ibu di Kamp Malable.

Mahadsanid itu berarti terima kasih dalam bahasa Somalia. Mereka tahu Indonesia, mereka tahu bendera Indonesia karena Indonesia dan Somalia itu dekat. Kebaikan orang Indonesia sudah berkali-kali masuk dan datang untuk Somalia. 

-bersambung-

Tag

Belum ada tag sama sekali