Wartawan Tak Lepas dari Incaran Israel

Tak cuma menyasar penduduk sipil, serangan Israel ke wilayah Palestina juga menincar pekerja media. Salah satu korbannya adalah kantor biro Anadolu Agency di Palestina yang hancur dihantam roket Israel.

Foto milik kantor berita Anadolu Agency yang memperlihatkan warga Palestina yang meratap ke bangunan tempat tinggalnya yang hancur. (Anadolu)

ACTNews, JAKARTA – Kabar eskalasi serangan Israel ke wilayah Palestina, khususnya di Jalur Gaza, terjadi sejak Selasa (12/11) siang lalu. Nyaris seratus serangan dilontarkan menggunakan roket-roket dari Israel ke Palestina. Kabar awal pada Selasa lalu, tiga orang meninggal dunia serta 18 orang lainnya mengalami luka-luka. Hingga Kamis (14/11) pagi, dari data Aksi Cepat Tanggap (ACT) kumpulkan, jumlah korban meninggal dunia mencapai 32 orang dan 100 orang mengalami luka-luka.

Wartawan Anadolu Agency (AA) Pizaro Gozali Idrus menuturkan, sampai saat ini warga Palestina memang terus terancam dengan serangan-serangan roket yang dilancarkan Israel. Bangunan-bangunan tempat tinggal warga Palestina, selain hancur akibat penggusuran, juga banyak yang rusak dan hancur rata dengan tanah akibat terhantam roket.

“Tak hanya permukiman penduduk saja, Israel juga menargetkan serangan pada bangunan-bangunan fasilitas umum seperti kantor biro AA yang ada di Palestina pada Mei lalu, padahal pekerjaan jurnalis sangat dilindungi dan dilarang untuk diserang,” tutur Pizaro saat menjadi pengisi acara konferensi pers tentang pernyataan sikap ACT terkait serangan Israel terhadap Palestina, Kamis (14/11) di kantor ACT Cilandak, Jakarta Selatan.

Pizaro menambahkan, sejak tahun 1972, tercatat 102 jurnalis harus meregang nyawa akibat kekerasan saat bertugas di wilayah konflik Palestina. Angka ini tak termasuk dengan jurnalis yang harus dihukum atas dasar yang tidak jelas. Salah satu jurnalis AA sendiri, kata Pizaro, pernah ditangkap di Tepi Barat dan ditahan tanpa pernah diadili dengan alasan yang dianggap mengada-ada.

“Salah satu yang ditakuti Israel adalah pekerja media. Mereka sangat tidak ingin kejahatan yang mereka lakukan terhadap Palestina diketahui dunia,” ungkap Pizaro.


Direktur Global Humanity Response ACT Bambang Triyono (kiri) menjelaskan pernyataan sikap dan rencana aksi ACT pascaserangan eskalasi serangan Israel ke Palestina, Kamis (14/11). (ACTNews/Satari)

Kehadiran Pizaro di kantor ACT Jakarta sendiri sebagai pengisi acara di konferensi pers tentang pertanyataan sikap ACT atas serangan Israel yang cukup besar ini sejak Selasa (12/11) lalu. Direktur Global Humanity Response (GHR) - ACT Bambang Triyono mengatakan, ACT sangat mengecam keras serangan yang dilakukan Israel hingga memakan korban jiwa dan merusak hunian penduduk Palestina.

Sejak serangan menghantam Palestina pada Selasa lalu, ACT semakin memasifkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina. Khusunya untuk kebutuhan medis, ACT telah menyiagakan sejumlah relawannya di Palestina untuk melakukan tindakan terhadap korban serta keluarganya. “Sebelumnya ACT memang rutin dan secara reguler mendistribusikan bantuan ke penduduk Palestina. Namun sejak adanya eskalasi serangan ini, kami akan memasifkan bantuan,” jelas Bambang.

ACT akan membuka posko tindakan pertolongan pertama di daerah-daerah yang menjadi pusat keramaian, terlebih di perbatasan-perbatasan Palestina. Jika nantinya ada tindakan medis yang lebih serius seperti operasi atau kebutuhan alat bantu prostetik, ACT juga akan memfasilitasi. Tak hanya itu, santunan bagi keluarga korban yang meninggal dunia juga akan diberikan.[]