Warteg Sepi dan Tidak Laku, Makanan Basi, Putri Sering Merugi

Putri Dewi Kartika pemilik warteg Mustika Rasa di Tebet Barat sering mengalami kerugian. Masakan yang ia jual tidak laku bahkan hingga basi dan harus dibuang.

putri sedang berjualan.
Putri saat sedang berjualan di warteg miliknya di Tebet Barat. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berimbas pada pelaku UMKM warung makan yang bergantung pada pelanggan pekerja kantor. Tak hanya itu, banyaknya masyarakat yang diam di rumah dan enggan keluar juga mengakibatkan mereka kehilangan pelanggan. 

Pemilik warung nasi Mustika Rasa di Tebet Barat, Putri Dewi Kartika mengungkapkan, tutupnya kantor yang berada di sekitar warung membuat usahanya sepi. Bahkan sayur yang sudah dimasak sering dibuang lantaran tidak laku dan akhirnya basi. Tentu hal ini membuat kerugiannya semakin besar. 

“Karena kebanyakan pelanggan kita adalah pegawai kantor. Kantor tutup, otomatis enggak ada pelanggan lagi. Sayur sama masakan yang tidak laku tapi tidak bisa dimasak lagi jadi basi, dibuang dan akhirnya rugi,” kata Putri, Jum’at (23/7/2021). 

Meski kondisi usahanya sepi, namun beban pengeluaran untuk biaya sewa ruko tetap ada, tak berkurang. Selama PPKM ini sehari Putri hanya mengantongi laba Rp200 sampai Rp300 ribu. Uang sewa ruko per bulan sebesar Rp5 juta. Jika tidak berjualan, kondisinya akan semakin sulit lantaran tidak ada sumber pemasukan lain. 

“Kita ini serba bingung. Jualan sepi, enggak jualan juga nanti bagaimana? Makannya dari mana? Jadi kita coba bertahan. Agar tidak rugi, saya siasati dengan berjualan online. Meski jumlah (untung) tidak besar, tapi alhamdulillah yang penting tidak rugi,” ujarnya. 

Tim program ACT Emirad Jihad Fisabilillah mengatakan, untuk membantu warteg-warteg agar bisa bertahan, ACT mengadakan program Operasi Makan Gratis (OMG). Nantinya warteg bertugas menyiapkan makanan siap santap untuk selanjutnya dibagikan kepada warga prasejahtera terdampak pandemi Covid-19. 

Pria yang akrab dipanggil Dede ini menjelaskan, dengan sekam tersebut, manfaat program dapat dirasakan banyak orang. Selain OMG, ke depan ACT juga akan menyiapkan program Humanity Food Careline Services (FCS). Di mana masyarakat yang membutuhkan bahan pangan atau warteg yang ingin bekerjasama menyiapkan makan siap santap bisa menghubungi ACT melalui telepon. 

“Jadi terobosan itu sedang disiapkan. Sehingga warga yang membutuhkan bahan pangan bisa menghubungi melalui telepon, atau warteg yang ingin kerjasama menyiapkan makanan siap santap juga bisa menghubungi ACT melalui telepon,” pungkas Dede. []