Wedhus Gembel Ancaman Warga Merapi

Awan panas mampu meluncur hingga ratusan kilometer per jam dengan suhu ratusan derajat Celsius. Hal ini jelas menjadi ancaman warga Merapi tiap kali gunung di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah ini meningkat aktivitasnya.

Awan panas Merapi yang terpantau pada Kamis (7/1/2021) pukul 12.50 WIB. (https://twitter.com/bpptkg)

ACTNews, MAGELANG – Gunung Merapi yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah kian menunjukkan aktivitasnya, Kamis (7/1/2021) pagi. Setelah pada Selasa lalu Merapi terlihat meluncurkan lava pijarnya ke arah barat daya atau Magelang, hari ini, terpantau di balik tebalnya kabut yang menutupi puncak, awan panas atau masyarakat lebih mengenalnya dengan wedhus gembel keluar dari puncak merapi dan mengarah ke hulu kali Krasak. Munculnya kepulan awan tebal berwarna putih yang dari kejauhan seperti kumpulan wedhus alias domba ini tentu menjadi sinyal bahwa Merapi masih mengancam warga di sekitar, salah satunya dengan awan panas.

Di dalam artikel Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang terbit pada Rabu (27/10/2010) silam menyebut, awan panas yang dimuntahkan gunung berapi ketika baru keluar dari kawah suhunya bisa mencapai 1.000 hingga 1.100 Celsius dan ketika menerjang permukiman panasnya masih di angka ratusan Celsius dengan kecepatan luncur ditaksir 200 kilometer per jam.

Melihat fakta tersebut, jelas awan panas alias wedhus gembel menjadi ancaman besar bagi warga yang tinggal di sekitar gunung api, khususnya Merapi yang disebut sebagai gunung paling aktif di Indonesia. Awan panas ini juga mampu memicu hujan abu di jarak yang cukup jauh. John Seach, seorang pakar vulkanologi menyebut, aliran piroklastik (material gas vulkanik, abu vulkanik, dan batuan vulkanik yang turun menuruni lereng gunung) Merapi dapat menempuh jarak 6 sampai 7 kilometer dari puncak. Bahkan, pada letusan tahun 1969 aliran piroklastik Merapi berhasil menempuh jarak hingga 13 kilometer.

Korban meninggal dunia akibat awan panas Merapi pun terbilang cukup banyak. Pada letusan tahun 2010, awan panas menjadi salah satu penyumbang terbanyak korban meninggal, salah satunya ialah juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan. Diperkirakan, suhu awan yang menerjang Mbah Maridjan setinggi 600 celsius.

Dalam catatan, letusan Gunung Merapi paling dahsyat pernah terjadi selama 120 jam tanpa jeda di tanggal 15-20 April 1872. Bencana tersebut memuntahkan awan panas dan memusnahkan seluruh permukiman yang berada di ketinggian di atas seribu mdpl. Dilansir dari Kompas.id, letusan pada tahun tersebut sangat mendadak dengan lava kental. Letusannya terdengar sampai Karawang, Priangan, Madura serta Bawean dengan suara seperti meriam. Di tahun 1930 pun Merapi mengalami erupsi. Kali ini menewaskan 1.367 penduduk Magelang.

Saat ini, Merapi masih menunjukkan aktivitasnya sejak dinyatakan masuk level III atau siaga pada awal November 2020 lalu. Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang kebencanaan pun telah mengirimkan sejumlah relawan untuk terus mendampingi warga serta pendirian posko kemanusiaan dan pendistribusian bantuan. Hari ini, Kamis (7/1/2021), setelah mendapatkan kabar bahwa wedhus gembel mulai keluar dari puncak Merapi, bersama relawan dan petugas gabungan, relawan Masyarakat Relawan Indonesia-ACT mengevakuasi warga Dusun Babadan 2, Desa Paten, Kecamatan Dukun, Magelang menuju Posko Perumahan Bumi Prayudan, Mertoyudan, Kabupaten Magelang yang lebih aman.[]