Wilayah Barat Laut Suriah Butuh Bantuan Obat-obatan

Seiring eskalasi konflik dan bertambahnya jumlah pengungsi internal, sejumlah wilayah di Suriah membutuhkan perlengkapan medis dan obat-obatan yang semakin banyak.

Wilayah Barat Laut Suriah Butuh Bantuan Obat-obatan' photo

ACTNews, BARAT LAUT SURIAH – Status kesehatan di wilayah barat lautSuriah memburuk. Berdasarkan data yang dikeluarkan Reliefweb April lalu, dari seribu komunitas, hanya 213 yang melaporkan ketersediaan item medis di tempat mereka, 123 dari 1.000 perempuan tidak dapat melahirkan di fasilitas kesehatan pada umumnya, dan sebagian besar individu mengalami malnutrisi akut.

Wilayah barat laut Suriah merupakan salah satu daerah terpadat di negara Suriah. Wilayah ini merupakan rumah bagi empat juta jiwa, termasuk sebagian besar pengungsi internal dari berbagai wilayah lainnya. Pada Mei 2019, 330.000 jiwa mengungsi, imbas dari eskalasi konflik di Hama Utara dan Idlib Selatan. Sebagian besar berpindah ke bagian Idlib dekat dengan perbatasan Turki.

“Melihat skala perpindahan populasi yang sedang berlangsung, memberikan bantuan kesehatan secara mobile adalah salah satu cara efisien menangani problem kesehatan warga Suriah,” kata Annette Heinzelmann, Koordinator Darurat WHO di Turki, sebagaimana dirilis Reliefweb, Selasa (2/7).

Hambatan-hambatan kesehatan di wilayah Suriah Barat Laut di antaranya minimnya fasilitas kesehatan, minimnya transportasi atau jarak tempuh yang jauh, biaya kesehatan yang tinggi, hingga keamanan selama perjalanan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan.

Sebagian besar penduduk pun melakukan berbagai cara untuk menanggulangi masalah tersebut. Sekitar 47 persen mendaur ulang item medis, menggunakan obat di bawah dosis, atau pun menggunakan perawatan nonmedis. Reliefweb juga menyebutkan tiga perlengkapan medis paling dibutuhkan meliputi obat-obatan, keperluan persalinan, pendukung peralatan penyakit kronis. Sedangkan, penyakit yang paling parah dilaporkan adalah malnutrisi yang diderita balita, saluran pernapasan, dan penyakit kronis.

Kekurangan bantuan medis itu merupakan dampak dari menguatnya operasi militer di wilayah Suriah Barat Laut sejak April 2019.[]

Bagikan