Yaman Hadapi Musim Dingin yang Berdampak Gizi Buruk Anak

Anak-anak di Yaman kala musim dingin bukan hanya menghadapi suhu dingin, tetapi mereka harus menghadapi ancaman gizi buruk karena kekurangan makanan.

Salah satu pengungsi di Distrik Hamdan, Sanaa, Yaman menerima bantuan pangan Aksi Cepat Tanggap Oktober 2020. (ACTNews)

ACTNews, HAMDAN – Standar hidup penduduk Yaman semakin memburuk. Sebagian besar keluarga tidak dapat memenuhi persyaratan minimum untuk bertahan hidup karena sebagian besar penduduk hidup dalam keadaan sangat miskin. Hal itu dilaporkan Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response - Aksi Cepat Tanggap, Kamis (12/11).

Bahkan pada November ini, masyarakat prasejahtera yang juga korban perang harus beradu dengan suhu dingin. Pada permulaan musim dingin ini, di Sanaa, ibu kota Yaman, suhu di siang hari berkisar 14 derajat Celsius, sedangkan di malam hari bisa berada di angka 4 derajat Celsius.

"Kondisi ini semakin merentankan keadaan para pengungsi, khususnya anak-anak. Mereka membutuhkan pakaian hangat dan makanan yang lebih bergizi dan memadai," kata Said.

Mengawali musim dingin, lanjut Said, Aksi Cepat Tanggap juga mengantarkan bahan makanan yang menjangkau lebih dari 700 jiwa di Distrik Hamadan pada pertengahan Oktober lalu. "ACT kali ini memberikan paket pangan kepada keluarga prasejahtera. Paket pangan berisi 75 kilogram gandum, minyak goreng, kacang-kacangan, dan gula," jelasnya.

Tak jarang, keluarga-keluarga di Yaman harus menahan lapar. Keadaan itu turut berdampak pada kesehatan anggota keluarga. Gizi buruk pun menjadi akibat yang turut mengikuti.

PBB melaporkan, malnutrisi adalah hal yang paling mengkhawatirkan di Yaman. Satu dari lima balita di Yaman berpotensi mengalami gizi buruk akut. Kasus itu terus menyebar di wilayah selatan-yang mana tempat paling terdampak peperangan.[]