Yaman yang Menangis, dan Kita yang Tak Tahu Apa-Apa

Yaman yang Menangis, dan Kita yang Tak Tahu Apa-Apa

Yaman yang Menangis, dan Kita yang Tak Tahu Apa-Apa' photo

ACTNews, SANA'A - Jika ada sebuah pertanyaan muncul dalam hati; wilayah mana di atas peta dunia yang hari ini sedang mengalami krisis kemanusiaan paling parah sepanjang sejarah? Jawaban dari pertanyaan pilu itu mungkin bakal mengarah dan mengerucut tepat di atas Negeri Yaman, bukan Suriah, bukan Somalia, bukan pula Gaza atau Tepi Barat di Palestina.

Tentu bukan jawaban asal tebak, bukan pula jawaban yang mengada-ada. Fakta itu sedang benar-benar terjadi. Hari ini seluruh alasan yang bisa memicu krisis kemanusiaan terpampang nyata di Yaman. Krisis di Yaman menjadi tanggung jawab seluruh hati yang masih punya empati.

Krisis bertahan sepanjang hari, krisis bertahan sepanjang tahun, dan tahun 2017 ini mungkin bakal menjadi puncak dari seluruh kekacauan dan krisis kemanusiaan di Yaman.

Kolera yang merebak sampai menembus 400 ribu lebih warga terinfeksi di seluruh provinsi. Air bersih hampir nihil tak bisa digali lagi dari dalam tanah, kebutuhan makanan hampir mustahil dipenuhi. Listrik padam tak pernah menyala sejak bertahun-tahun terakhir. Belum lagi dengan fasilitas medis yang porak-poranda, obat-obatan yang mahal sekali ditebus. Dan satu alasan paling memicu kekacauan: konflik yang belum tahu kapan akan berakhir.   

Um Mustafa, seorang ibunda asal Sanaa punya kesibukan baru sejak setengah tahun terakhir. Sepanjang hari, ia harus menjaga anaknya di sebuah bangsal rumah sakit di Kota Sanaa.

“Anak saya berbulan-bulan mengalami anemia parah dan kolera dalam waktu bersamaan. Makin hari tubuhnya makin lemah, tiap jam tubuhnya menahan sakit dengan muntah dan diare terus menerus,” kata Um Mustafa mengutip dari Al Jazeera.

Tak lebih dari setengah dari seluruh jumlah rumah sakit di Yaman masih memaksa beroperasi, mungkin jumlahnya tidak lebih dari seratus rumah sakit. Itu pun dengan peralatan serba terbatas. Bahkan beberapa rumah sakit yang masih membuka pintunya, terpaksa menyiapkan tenda di halamannya untuk menerima pasien baru yang datang setiap hari. Ribuan pasien-pasien baru mengalami gejala yang sama, kolera akut dan dehidrasi dalam kondisi paling parah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, setiap hari setidaknya ada 5.000 warga Yaman baru yang terinfeksi kolera. Sejauh ini, statistik mengatakan, kematian warga Yaman akibat kolera sudah sampai di angka 2.000 jiwa tewas.

Prediksi WHO, jumlah mereka yang terinfeksi kolera di Yaman mungkin bisa sampai menembus 600.000 jiwa dalam beberapa bulan ke depan.

“Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Yaman. Kolera nyaris membunuh ratusan ribu warga Yaman di seluruh provinsi. Statistik hari ini mengatakan hampir 400.000 jiwa terinfeksi kolera dalam waktu bersamaan. Dari catatan kasus medis di mana pun, kasus kolera di Yaman menjadi kasus terbesar yang pernah terjadi secara bersamaan dalam satu negara, dalam rentang waktu satu tahun,” kata Mohamed Bahaq, seorang dokter dari rumah sakit di Kota Sanaa, melansir Al Jazeera.

Yaman menangis, dan kita yang diam tak tahu apa-apa    

Dalam kajian medis, merebaknya kolera sebenarnya tak bakal menjadi masalah serius jika ditangani dengan kapasitas medis yang maksimal. Infeksi bakteri kolera butuh perawatan intensif agar mencegah diare berulang, mencegah pasien kolera masuk dalam fase dehidrasi akut. Kalau sudah sampai dehidrasi parah, pasien bisa tewas dalam hitungan menit karena hilangnya cairan tubuh dalam waktu yang singkat.

Tapi apa yang terjadi di Yaman hari ini tak pernah bisa diandalkan lagi. Akumulasi krisis kemanusiaan memburuk sepanjang hari. Bagaimana bisa menangani pasien kolera, kalau setiap hari konflik masih membelenggu Yaman? Fasilitas medis makin langka, seluruh ruangan penuh dengan pasien-pasien terinfeksi kolera, malaria, dehidrasi. Air bersih juga hampir mustahil di dapat di sumur belakang rumah. 

Mohamed Bahaq, doktor di sebuah rumah sakit di Sanaa mengatakan, rumah sakit yang masih memaksa beroperasi pun menghadapi kompilasi masalah. “Kami tak punya staf medis yang cukup, kami tak punya obat-obatan, kami memaksa sumber dari luar Yaman untuk membawa masuk semua obatan-obatan dan suplemen medis, dengan cara apa lagi kami bisa mendapatkan obat?” ungkapnya.

Kolera, makanan nihil, air tanah tak ada, dan listrik yang padam. Lebih dari 10 ribu jiwa tewas dalam konflik, sejak pertama kali milisi Houthi merebut ibu kota Sanaa di tahun 2014.

Yaman sedang benar-benar darurat. Krisis kemanusiaan di negeri itu bisa dibilang sudah melampaui krisis yang beberapa waktu lalu melumpuhkan Aleppo di Suriah. Jauh lebih buruk dibanding Aleppo. Jauh lebih kacau dibanding kondisi di Gaza atau Tepi Barat di Palestina.

Pejamkan mata sejenak, sadari bahwa sepanjang hari mereka di negeri Yaman memanggil meminta tolong, menangis kepayahan menghadapi berbagai krisis. Tapi kita di sini, siapa pun malah diam. Seperti tak tahu apa-apa.

Mungkin, jika Yaman terus memburuk. Krisis di negeri itu bakal jadi rasa malu yang luar biasa bagi rasa kemanusiaan kita. []

 

sumber gambar: Al-Jazeera, AP, middleeasteye, reuters
Bagikan