Zakat Fitrah sebagai Pamungkas Ibadah Ramadan

Setelah satu bulan berpuasa sebagai ketaatan kepada Allah, menunaikan zakat fitrah menjadi ibadah penutup di bulan Ramadan. Hikmahnya bahwa tak hanya ibadah kepada Allah, namun ibadah sosial juga menjadi penting bagi umat muslim.

Memberi makan menjadi esensi bahwa puasa melatih kepedulian kita terhadap sosial.
Memberi makan menjadi esensi bahwa puasa melatih kepedulian kita terhadap sosial. (ACTNews/Arifka Nanda)

ACTNews, JAKARTA - Saat Ramadan, banyak muslim berlomba-lomba menunaikan ibadah wajib maupun sunah demi mendulang pahala tanpa batas. Dari seluruh ibadah yang dilaksanakan di bulan suci ini, ada ibadah pamungkas yang harus ditunaikan, yakni zakat fitrah. 

“Inilah indahnya hikmah syariah Islam, bahwa Anda boleh ruku dan sujud, tilawah Al-Qur’an, melakukan ibadah mahdoh hablum minallah kepada Allah, tapi tidak cantik, ciamik, sempurna kalau kita tidak memperhatikan habluminnanas atau ibadah yang hubungannya dengan sesama manusia,” kata Ustaz Boby Herwibowo dalam Kajian Peradaban, Selasa (27/4/2021). 

Hal itu sama halnya seperti salat lima waktu, di mana dimulai dengan takbir hingga tasyahud, semuanya berisi pujian kepada Allah. Namun, tidak akan sah jika tidak ditutup dengan mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada di sisi kiri dan kanan. Ini menandakan bahwa habluminallah dan habluminannas itu begitu padu.


“Demikian juga saat kita menjalankan ibadah puasa, salat malam, tilawah Al-Qur’an maka tidak asyik jika tidak beribadah sosial. Puasa itu selalu berkaitan dengan aktivitas sosial, misal orang yang tidak mampu puasa maka mengqadanya di lain waktu, tidak mampu mengqada maka menggantinya dengan bayar fidyah, kasih makan ke orang-orang miskin. Maka memberi makan itu menjadi esensi bahwa puasa menjadi kepedulian kita terhadap sosial,” jelasnya. 

Lantas bagi diri sendiri, untuk apa zakat fitrah itu? Disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits sahih riwayat Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam ad-Daruquthni, Imam Al-Hakim dan dihasankan sanadnya oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ dan dishahihkan oleh Imam Ibnu Al-Mulaqqin dalam kitab Syarh al-Bukhari kemudian dishahihkan juga oleh Imam Al-Albani Rahimahullahu Ta’ala. Bahwa Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan rofats dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin.”

Muslim yang menunaikan zakat fitrah juga akan mendapatkan pahala yang besar dari ibadah tersebut. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Id, maka dia adalah zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ‘Id, maka dia sedekah seperti sedekah biasa.”


Hanya 2,5 kilogram dan itu yang akan menjadi penyuci jiwa umat muslim yang menunaikan zakat. Selain itu, bisa juga mengantar kebahagiaan kepada sesama. “Karena itu di hari Idulfitri ketika semua orang makan-makanan enak dan berpakaian terbaik, maka tidak pantas kalau masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan,” ujar Ustaz Bobby.

Masih banyak orang-orang yang membutuhkan di Indonesia. Ustaz Bobby mengatakan, sebuah ironi bahwa kemiskinan sendiri merupakan salah satu kekayaan Indonesia. “Hampir 100 juta penduduk Indonesia miskin. Buka mata, buka telinga, di sekeliling kita terlalu banyak mereka yang membutuhkan. Hampiri, sambangi, silaturahmi kepada semua orang miskin di sekitar kita. Tidak hanya zakat fitri, kalua bisa lebih dari itu lebih baik lagi,” ujar Ustaz Bobby. []