Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf, Apa Beda Maslahatnya?

Ziswaf atau zakat, infak, sedekah dan wakaf memang tidak terdengar asing di telinga. Masing-masing instrumen ini memiliki peran yang berbeda-beda maslahatnya dalam rangka memberdayakan masyarakat yang prasejahtera.

Relawan MRI Kaltim membagikan makanan gratis ke petugas kebersihan Jumat (22/5). (ACTNews/Arifka Nanda)

ACTNews, JAKARTA – Sering kita mendengar istilah ziswaf di berbagai kesempatan. Ziswaf adalah kependekan dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang mana semuanya adalah instrumen filantropi dalam Islam. Hamdan Zoelva selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) dalam satu kesempatan pernah mengatakan filantropi Islam ini dapat menjadi solusi kemiskinan yang tengah dihadapi masyarakat.

“Inilah inti dari ajaran Islam. Kenapa kita diwajibkan zakat dan dianjurkan sedekah dan wakaf karena dijanjikan kalau menanam satu akan tumbuh 700 untuk yang melakukan. Inilah kenapa kita dorong karena tentu sangat bermanfaat dan efeknya ini luar biasa untuk pemberdayaan umat dan pemberantasan kemiskinan,” jelas Hamdan pada ACTNews pada 2019 lalu.

Ziswaf memang sama-sama bertujuan untuk memberdayakan masyarakat prasejahtera. Namun sejatinya, peran ziswaf berbeda satu sama lain. Berikut adalah peran dari masing-masing instrumen tersebut beserta dengan maslahatnya.


Zakat

Sedari kecil kita telah diajarkan bahwa salah satu rukun menjadi seorang muslim adalah menunaikan zakat. Zakat menjadi wajib bersama dalil yang menyertainya, salah satunya yakni “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Baqarah: 43)


Selain perintah salat, manusia juga diwajibkan untuk berzakat kepada sesamanya. (ACTNews/Reza Mardhani)

Secara garis besar zakat terbagi menjadi dua, yakni zakat jiwa (fitrah) dan zakat harta (mal). Zakat fitrah wajib dikeluarkan setiap muslim di bulan Ramadan atau sebelum melaksanakan salat Idulfitri. Ketentuan zakat fitrah di Indonesia ditetapkan 2,5 kilogram beras atau makanan pokok di sekitar wilayah tempat tinggal. Sementara pembayaran zakat mal berbeda-beda menurut sifat harta dan besar penghasilan yang bersangkutan.


Infak

Berbeda dengan zakat yang bersifat wajib, infak bersifat sunah bagi umat muslim. Kata infak dalam dalil-dalil Alquran, hadis dan juga budaya ulama memiliki makna yang cukup luas, karena mencakup semua jenis pembelanjaan harta kekayaan. Kemana pun dan untuk tujuan apa pun, baik tujuan yang dibenarkan secara syariat ataupun diharamkan, semuanya disebut dengan infak.

Oleh karena itu pada banyak dalil perintah untuk berinfak disertai dengan penjelasan infak di jalan Allah, sebagaimana perintah Allah, “Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 195)


Sedekah

Jika infak terbatas dalam harta saja, maka sedekah lebih luas lagi pengertiannya. Sedekah mencakup segala macam bantuan dari seseorang kepada orang lainnya dengan harapan mencari pahala dari Allah. Bentuk pemberiannya, waktu, dan jumlahnya juga bebas sesuai keinginan pemberinya.

Istilah sedekah sering digunakan untuk menyebut segala jenis kebaikan sebab ada hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, “Segala kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari, no. 6021. Diriwayatkan pula oleh Muslim, no. 1005 dari hadits Hudzaifah). Bahkan hal kecil seperti senyuman yang tulus, menyingkirkan duri dari jalan, membaca tasbih atau wirit lainnya dan segala bentuk kebaikan lain secara agama bisa disebut sebagai sedekah.

Ustaz Faris BQ mengutip Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang bahkan menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang keutamaan sedekah tidak hanya berlaku untuk orang mukmin semata. Kumpulan hadis mengenai keutamaan sedekah tersebut juga berlaku untuk seluruh manusia, yang bisa mendapat kemanfaatan dari sedekah.


“Berlaku untuk orang fasik, berlaku untuk orang zalim, berlaku untuk orang kafir. Coba bayangkan, kenapa berlaku? Karena ia bisa menyelamatkan manusia,” ungkap Ustaz Faris di gelaran ACT Fest bertema "Tambahkan Sedekah, Tumbuhkan Berkah" pada Kamis (25/6) lalu.

Manfaat dan kebaikan dari sedekah karenanya berlaku secara universal. Menurutnya, kebaikan dari sedekah ini telah dibuktikan dari peristiwa-peristiwa masa lalu dan oleh karenanya, ia mengajak semua orang untuk ikut bersedekah.

“Jadi teman-teman, kalau untuk jadi dermawan itu, anak tidak harus percaya surga dan neraka. Anda ingin kehidupan yang baik itu, ya seperti itu (sedekah). Cuma keberkahannya ada yang datang dalam mukjizat langsung, kasat mata, ada yang berproses,” kata Ustaz Faris.


Wakaf

Ibadah wakaf dalam Islam dikategorikan sebagai salah satu amal jariyah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Wakaf sendiri adalah sedekah harta untuk kepentingan masyarakat banyak. Agak berbeda dari zakat, infak, dan sedekah, wakaf tidak berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Hal ini dikarenakan wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah atas nama umat banyak.

Pemberian ini termasuk sedekah jariah, tidak putus pahalanya selama terus bermanfaat bagi orang banyak. Wakaf tidak bersifat wajib, namun anjurannya tercantum pada Alquran surat Ali Imran ayat 92, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”


Wakaf dapat diimplementasikan menjadi sebuah sumur yang dapat dipakai oleh masyarakat secara komunal. (ACTNews)

Hamdan Zoelva menjelaskan, salah satu upaya pengentasan kemiskinan adalah melalui pengembangan dana wakaf sebagai filantropi tertinggi dalam Islam. “Kalau kita kembangkan dana wakaf dan ini akan terus berputar untuk umat dan bermanfaat  bagi umat. Ini pelan-pelan dan pasti akan mengatasi masalah kemikinan di Indonesia karena kita libatkan bersama-sama masyarakat. Hasil pengelolaan wakaf produktif itu tidak untuk perseorangan tapi untuk investasi dan diputar untuk usaha produktif,” ungkapnya.

Ustaz Amir Faishol Fath juga pernah mengajak para dermawan untuk ikut mewakafkan apa yang dia milikki dalam acara Waqf Business Forum yang bertemakan "Strategi Bisnis di Era New Normal" pada pertengahan Juni lalu. Jika belum bisa dengan harta, maka Ustaz Amir menyarakankan untuk memberikan tenaga mereka untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun peradaban manusia yang lebih baik.

“Masing-masing berwakaf, silahkan. Berwakaf dengan ilmunya, berwakaf dengan tenaganya, berwakaf dengan pikirannya, berwakaf dengan gagasannya, berwakaf dengan hartanya, semua kita bersinergi. Terserah mau jadi back, keeper, mau jadi striker, mau jadi sayap kanan silakan masing-masing. Intinya kita punya goal satu, dan kita berjuang bersama-sama yakni menyelamatkan kemanusiaan di muka bumi,” ucap Ustaz Amir. []