Zakat Penghasilan dari Warung Kelontong

Sebagai usaha yang banyak digeluti masyarakat, warung kelontong pun bisa wajib zakat asal telah memenuhi beberapa persyaratan.

zakat warung
Ilustrasi. Apabila aset lancar sebuah toko, warung, atau swalayan mencapai nisab 85 gram emas dan berlalu satu tahun (haul), maka zakatnya adalah 2,5%. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Warung, toko, atau grosir, merupakan sebuah bentuk usaha yang cukup umum dalam masyarakat. Sebagai salah satu sumber penghasilan, muncul sebuah pertanyaan. Adakah kewajiban zakat dalam setiap transaksi jual beli dari warung?

Ustaz Bobby Herwibowo kepada ACTNews menjelaskan, usaha perdagangan kelontong juga memiliki kewajiban zakat. “Dalam usaha tersebut dikenal dengan istilah tijarah (perdagangan), dan uruud at tijarah (semua barang dalam perdagangan) yang menjadi objek zakatnya,” ungkap Ustaz Bobby pada Senin (4/4/2022).


Apabila aset lancar sebuah toko, warung, atau swalayan mencapai nisab 85 gram emas dan berlalu satu tahun (haul), maka zakatnya adalah 2,5%. Objek zakatnya berupa kas, saldo, stok, dan piutang lancar.

“Akumulasi aset lancar bisa dikurangi pasiva lancar seperti overhead, biaya operasional, utang jatuh tempo. Dengan rumus ringkas, aktiva lancar dikurangi pasiva lancar dan dikalikan 2,5%. Jika hasil rumus di atas mencapai nisab maka keluarkan zakatnya setiap tahun,” kata Ustaz Bobby.

Jika khawatair zakat ini abai atau terlupa, pembayaran zakat ini dapat dipotong melalui setiap transaksi sebanyak 2,5%. “Namun bila ada kelebihan dari pola ini maka itu dihitung sebagai sedekah. Jika ternyata kurang, maka tunaikanlah kekurangannya,” tutup Ustaz Bobby.[]