Zionis Israel Buat Aturan Merugikan Petani Gaza

Israel membuat kebijakan baru yang merugikan petani di Gaza. Kebijakan tersebut mewajibkan petani tomat untuk mencabut sepal atau mahkota tomat sebelum diekspor keluar Gaza. Hal ini sangat merugikan, selain menghabiskan waktu petani, mencabut mahkota tomat akan membuat buah tersebut cepat busuk dan sulit dijual.

petani palestina
Ilustrasi. Aturan Israel tentang pencabutan sepal tomat sebelum diekspor, membuat petani tomat Palestina merugi. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Banyak warga Palestina, khususnya di Gaza, mengandalkan hidupnya sebagai seorang petani. Berbagai jenis sayur atau buah dapat mereka hasilkan untuk membiayai kehidupan keluarganya. Hasil panennya juga berguna untuk menyupai kebutuhan pasar bagi warga Palestina.

Namun sayang, sejak blokade yang dilakukan Israel, hidup petani di Gaza mengalami kesulitan. Israel kerap menindas para petani, baik dengan penghancuran maupun pencaplokan lahan secara ilegal. Tak jarang, tanaman-tanaman juga dirusak oleh mereka.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh otoritas Israel pun selalu menyudutkan petani Palestina. Pada 23 Juni lalu misalnya, Kementerian Pertanian Palestina mengatakan, pihak berwenang Israel telah membuat pembatasan baru yang merugikan para petani tomat di Gaza. Kebijakan tersebut berisi aturan petani tomat di Gaza harus mencabut sepal atau mahkota tomat sebelum diekspor. 

Jika petani tidak mematuhi aturan yang dibuat sepihak oleh Israel, tomat-tomat tersebut tidak akan diizinkan keluar dari Gaza. Hal tersebut tentu sangat merugikan para petani. Sebab, mencabut mahkota tomat satu per satu akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Selain itu, dengan mencabut mahkota tomat, akan membuat buah tersebut  lebih cepat membusuk.

Kementerian Pertanian Palestina juga menyebut tidak ada penjelasan langsung dari otoritas Israel terkait alasan dibuatnya kebijakan tersebut. Padahal, rata-rata pembeli lebih menyukai tomat yang memiliki mahkota di atasnya.

Salah satu petani Gaza mengatakan, hasil panen tomatnya yang akan dikirim ke Ramallah, Nablus, Jenin dan Hebron harus menunggu di truk selama tiga hari sebelum diizinkan lewat oleh pasukan Israel. "Dari titik di mana kami membuang sepal, tomat sudah mulai membusuk. Dan ketika kami mengirimkan tomat (ke pasar) , tomat itu sudah busuk sepenuhnya dan tidak ada yang membeli," ujar petani tersebut seperti dilansir Middle East Eye.

Kebijakan semena-mena dari otoritas Israel terhadap petani Palestina sudah banyak diterapkan sebelumnya. Terutama saat Israel menyerang Gaza pada Mei lalu. Israel telah memblokir hampir 6.500 truk yang hendak memasuki Gaza. Padahal truk-truk tersebut membawa berbagai barang penting penunjang hidup warga Gaza.

Selain itu, sekitar 300 truk sayuran, pakaian dan furnitur ditolak izinnya untuk keluar dari Gaza. Membuat para petani di Gaza mengalami kerugian setidaknya 16 juta dolar.[]