Zionis Israel Ganggu Distribusi Hidangan Iftar untuk Warga Palestina

Saat ratusan porsi makanan telah disiapkan untuk warga Palestina, tiba-tiba relawan ACT dan sejumlah warga Palestina mendapat gangguan dari tentara zionis Israel. Para tentara tersebut tidak mengizinkan distribusi makanan dilakukan di Kompleks Masjid Al Aqsa.

Suasana Masjid Al Aqsa usai magrib. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Di awal bulan Ramadan, Aksi Cepat Tanggap lewat Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan membagikan bantuan pangan untuk berbuka puasa bagi warga Palestina di Gaza dan Yerusalem. Namun, saat ratusan porsi makanan telah disiapkan untuk warga Palestina, tiba-tiba relawan ACT dan sejumlah warga Palestina mendapat gangguan dari tentara zionis Israel. Para tentara tersebut tidak mengizinkan distribusi makanan dilakukan di Kompleks Masjid Al Aqsa.

Bahkan, banyak tentara tersebut justru mengambil jatah makanan yang seharusnya diperuntukan bagi warga Palestina yang membutuhkan. Gangguan ini pun sempat menimbulkan perdebatan antara tentara Israel dengan relawan ACT dan warga sekitar.

“Ini adalah bukti bahwa tanah Palestina belum bebas dari genggaman zionis Israel”, ujar Said Mukaffiy dari Global Humanity Response-ACT, Selasa (13/4/2021). Said menjelaskan, meskipun sempat ada perdebatan, tim dari ACT tetap teguh membagikan ratusan porsi makanan yang telah disiapkan tersebut.

Selasa itu, distribusi bantuan makanan, disebut Said, dilakukan di dua tempat, yakni di wilayah kamp Jabalia, Gaza Utara, dan halaman masjid Masjid Al Aqsa di Yerusalem. Selain didistribusikan langsung di tempat tersebut, Said menjelaskan bahwa makanan berbuka puasa juga diantarkan langsung ke rumah penerima manfaat.


Sejumlah tentara Israel tengah berkumpul dan berdebat dengan relawan ACT dan warga sekitar (ACTNews).


“Dengan bantuan para dermawan Indonesia, kami bisa menghadirkan sajian iftar bergizi. Bantuan pangan menjadi amat berarti bagi masyarakat Palestina, sebab, pada Ramadan tahun lalu, kondisi ekonomi keluarga prasejahtera Palestina untuk membeli makanan bergizi amat sulit,” jelas Said.[]