Back
logo image logo

100 Hari Pascabencana Sulteng: Syukuri yang Berdiri Tangguh

Share :

Kisah

100 Hari Pascabencana Sulteng: Syukuri yang Berdiri Tangguh

Ingatan kelam itu kini sudah lewat di hari ke-100. Tepat 100 hari sudah pascabencana besar menghempas dan melumpuhkan Sulawesi Tengah.

07 Januari 2019

Foto : Shulhan Syamsur Rijal

Penulis : Shulhan Syamsur Rijal

Editor : Dyah Sulistyowati

Ingatan kelam itu kini sudah lewat di hari ke-100. Ahad (6/1) kemarin, tepat 100 hari sudah pascabencana besar menghempas dan melumpuhkan Sulawesi Tengah. Hari Jumat, 28 September 2018 tak mungkin dilupakan. Hari di mana gempa besar diikuti tsunami dahsyat datang kala Magrib menutup senja.

Kini, melewati hari-hari pemulihan, setiap bulannya di perulangan tanggal 28 begitu berarti bagi segenap warga Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala. Setiap yang masih tersisa, berdiri kokoh usai terjangan tsunami, patut disyukuri.

Sementara setiap yang hilang, wafat, atau ambruk bahkan rata tanah dihempas tsunami juga likuefaksi, bertahap sedang dalam proses pembangunannya. Warga mensyukuri yang bertahan, membangun kembali yang ambruk untuk segera pulih.

Masjid yang kuat menahan tsunami

Lebih 100 hari sudah terlewat, tapi jejak-jejak dahsyatnya gempa, tsunami, dan likuefaksi di Kabupaten Donggala masih bisa dilihat di sekitar pesisir. Mulai dari jejak kehancuran, hingga jejak ketangguhan. Salah satu mukjizat dari tangguhnya sebuah bangunan, bisa disimak langsung dari kokohnya Masjid Ar-Rahman, di Desa Loli Londo, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

Surau dengan kubah berkelir hijau tua, juga kubah-kubah kecil berwarna-warni, dan dua menara tinggi menjulang itu kini masih berdiri kokoh. Padahal, masjid ini lokasinya berada persis di tepian Teluk Palu sisi sebelah barat. Masjid ini benar-benar menantang tsunami, di hari nahas itu.

Letaknya pun berada persis di tepi jalan utama, jalan yang menghubungkan Kota Palu, dengan Donggala hingga ke Sulawesi Barat. Siapa pun yang berkendara dari Kota Palu menuju Pusat Pemerintahan Donggala di wilayah Banawa, akan melintasi Masjid Ar-Rahman ini.

Sebelum tsunami menerjang, masjid ini dikenal banyak pengendara yang biasa melaju dari Sulawesi Tengah menuju Sulawesi Barat. Pascatsunami, bentuk masjid yang tetap tangguh, utuh, justru makin menjadikan masjid ini disinggahi lebih banyak jemaah.

Kami bertemu langsung dengan Sang Imam Masjid Ar-Rahman, beliau mengenalkan diri dengan nama Pacoro (52). Dari gurat wajah dan logatnya yang khas, Pacoro adalah orang Suku Kaili, suku asli dari Sulawesi Tengah. Pacoro mengenalkan, dirinya berasal dari wilayah Sindue Tobata, di Pantai Barat, Donggala.

“Ba azan sudah to, habis muazin azan. Ikamah sudah. Saya langsung maju (jadi imam). Sementara Allahu Akbar memulai salat, tidak sampai al-fatihah rakaat pertama selesai, tiba-tiba gempa besar,” kisahnya di hari pilu itu.

Ketika tsunami menghempas pesisir Donggala 28 September lalu, Pacoro berkata ia sedang dalam niatnya untuk menyelesaikan salat Magrib, berjamaah, menjadi imam.

Pacoro mengaku, ketika gempa besar datang, sebenarnya ia tidak ingin sampai meninggalkan salatnya. Ia masih melanjutkan salat bahkan ketika seluruh jemaahnya sudah lari keluar masjid.

“Saya tahan, tapi tidak bisa. Jemaah sudah manggil saya. Sudah bagoyang makin keras. Akhirnya saya lari. Saya lari ke arah atas. Di atas bukit itu baru saya sadari kalau tsunami besar datang,” ujarnya bercerita.

Bermalam di atas bukit, tak jauh dari masjid, Pacoro dan jemaah Masjid Ar-Rahman akhirnya memutuskan untuk kembali ke masjid di kala Subuh. Terkejut ia dan jemaah lain ketika melihat masjid dalam kondisi utuh, sementara rumah-rumah di sebelah masjid habis tinggal bersisa pondasi. Hanya satu yang tampak rusak di Masjid Ar-Rahman, yakni dindingnya yang berupa kaca, pecah, hilang seluruhnya diterjang tsunami.

“Awalnya, saya tetap sedih. Kalau masjid ini tidak terpakai lagi setelah tsunami. Janji saya untuk menjaga masjid ini, tidak terselesaikan dengan baik. Tapi Alhamdulillah, keajaiban Allah itu ada. Masjid ini hanya rusak tembok kacanya saja. Semuanya utuh. Bahkan tiang menaranya utuh. Padahal tsunami datang tinggi, menghilangkan semua rumah-rumah di sebelah masjid,” tuturnya.

Pacoro mengingat betul, ketika pertama kali diamanahkan untuk menjaga masjid ini dari seorang pendiri masjid, ia dititipkan untuk selalu menjaganya dalam kondisi apa pun. “Saya sudah janji dengan Pak Haji (sebutan Pacoro untuk pendiri masjid), kalau saya akan jaga masjid ini baik-baik. Jaga Rumah Allah ini, dengan cara menjalankan salat lima waktu,” ucap Pacoro mengenang.

Sampai lewat 100 hari pascatsunami di pesisir Palu dan Donggala, Masjid Ar-Rahman kini masih berdiri tegak. Tembok betonnya utuh, keretakan-keretakan kecil sudah ditambal. Pacoro pun masih didaulat menjadi imam tetap, dan penjaga Masjid Ar-Rahman.

“Mungkin ini memang ujian besar. Makanya saya selalu bilang ke warga, kalau mendengar azan, segera tinggalkan pekerjaan. Sarung disediakan, mukena pun ada. Tinggal bagaimana niatnya untuk menghidupkan masjid ini. Setelah tsunami kemarin, mari kita salat bersama di masjid ini. Kita menyadarkan diri. Allah sudah menjaga masjid-Nya. Tinggal tugas kita merapatkan saf di masjid ini,” ucap Pacoro mengharap warga sekitar Masjid Ar-Rahman, merapat ke masjid tiap lima waktu salat.

Membangun kembali masjid yang roboh

Lain cerita dengan Masjid Ar-Rahman di Loli Londo, bencana gempa diikuti tsunami dan likuefaksi 28 September silam juga meninggalkan cerita tentang surau, atau masjid-masjid yang roboh. Lewat 100 hari pascabencana, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih berikhtiar untuk membangun kembali sejumlah masjid permanen. Memulihkan tempat sujud bagi penyintas gempa, tsunami, dan likuefaksi yang bertahan untuk bangkit.

Bambang Triyono selaku Koordinator Program Pemulihan ACT untuk Palu-Sigi-Donggala menyampaikan, masjid yang dibangun kembali oleh ACT tersebar di banyak lokasi.

“Sampai 100 hari pascabencana ini, masjid yang dibangun kembali ada delapan lokasi. Salah satu masjid permanen yang sedang dibangun adalah Masjid Al-Abrar di Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi,” papar Bambang.

Merangkum catatan Tim Pemulihan Pascabencana ACT, hingga pekan kedua Januari 2019 ini, pembangunan kembali masjid-masjid yang roboh telah dilakukan di delapan titik. Lokasi tersebut meliputi; Masjid Nurul Falah di Tanjung Padang, Sirenja, Donggala; Pesantren Tahfiz Anwarul Qur’an di Kota Palu; Masjid Al-Amanah di Kawatuna, Mantikulore, Palu; Masjid Al-Mujahidin di Panau, Tawaeli, Palu; Masjid TVRI di Kota Palu; Masjid Al-Ikhsan di Tanggiso, Duyu, Palu Barat; Masjid Iradatullah di Tondo, Palu Timur, Palu; Masjid Al-Abrar di Potoya, Dolo, Sigi.