Back
logo image logo

Tidak Ada Hunian pada Ramadan Ini

Kisah

Tidak Ada Hunian pada Ramadan Ini

Kediaman Biryanto hanya berupa rumah panggung sederhana, yang kini tersangkut di antara semak dan lumpur tinggi akibat banjir bandang Bengkulu sepekan lalu. Ramadan ini, rumah panggungnya absen menaungi keluarga Biryanto.

5 Mei 2019

Foto : Gina Mardani Cahyaningtyas

Penulis : Gina Mardani Cahyaningtyas

Editor : Dyah Sulistyowati

Dari Kota Bengkulu, butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai Dusun Taba Penyengat di Desa Talang Panjang, Kecamatan Bang Haji, Bengkulu Tengah. Dusun yang terletak di perkebunan sawit itu berjarak sekitar 33 kilometer dari Kota Bengkulu. Memasuki desa, bebatuan terjal dan lumpur lebih sering mendominasi badan jalan.

Dusun Taba Penyengat menjadi salah satu wilayah terdampak banjir yang cukup parah. Berdasarkan keterangan warga, ketinggian air kala itu mencapai empat meter. Sebanyak 131 jiwa menjadi korban banjir. Sementara itu, empat belas rumah hanyut terseret arus. Belasan keluarga tidak lagi memiliki tempat tinggal.

Biryanto (32), salah satu warga yang rumahnya terseret air menceritakan, Jumat (26/4) lalu, hujan deras memang tidak berhenti hingga pukul sebelas malam. Sungai yang berada persis di belakang permukiman warga meluap dengan cepat. Kata Biryanto, sejak pukul lima sore pada Jumat itu, listrik telah padam. Bahkan hingga seminggu kemudian, yakni Kamis (2/5), listrik juga belum normal.

Dalam kondisi basah dan gelap gulita, warga menyelamatkan diri. Ada yang menyelamatkan diri ke persimpangan jalan karena wilayahnya lebih tinggi, atau pun memilih di rumah tetangga yang dirasa lebih kuat. Biryanto dan keluarganya pun memilih bertahan ke rumah panggung milik kerabat di sebalah rumah mereka.

“Air itu menggenang sampai batas kayu. Pada pukul tiga pagi saya lihat rumah saya hanyut, bergeser ikut air. Itu bekas pondasinya,” cerita bapak dua anak itu sembari menunjuk bekas rumahnya yang sisa pondasi. Biryanto mengaku, sudah memiliki firasat bahwa rumahnya akan hanyut sebab hujan yang turun begitu deras kala itu. Rumah Biryanto terseret sekitar 50 meter dari pondasinya hingga ke seberang kebun warga, tersangkut di antara semak dan lumpur tinggi.

Biryanto mengaku pasrah atas rumahnya saat ini. Menurutnya, rumah itu harus dibongkar dan dibangun ulang. Ia pun memperkirakan baru akan membangun kembali rumahnya setelah hari raya Idulfitri. “Mungkin akan lama, paling-paling sesudah Lebaran. Kita harus maklum juga, kita kan butuh tenaga orang lain, sedangkan sedikit lagi memasuki bulan puasa,” akunya, di sela pemberian bantuan logistik oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Sebab begitu, mau tidak mau, selama Ramadan, Biryanto dan keluarganya tinggal di tenda darurat.

“Saya tinggal berenam di tenda. Mertua dua, anak dua, saya dan istri. Anak-anak sampai sekarang masih sehat, alhamdulillah. Memang, kalau tidur di tenda malam itu dingin,” ungkapnya.

Selain kehilangan rumah yang baru ia dirikan lima tahun, Biryanto juga harus berhenti bekerja sementara waktu. Sehari-hari, ia menjadi buruh perkebunan sawit. Banjir yang melanda Desa Talang Panjang membuat perkebunan rusak dan tidak stabil. Sementara waktu, ia dan warga Dusun Taba Penyengat mengandalkan bantuan yang datang serta sisa bahan makanan yang masih mereka punya. Bahkan, selain kehilangan rumah, Biryanto mengaku juga kehilangan sejumlah ternaknya.

Bagi Biryanto, Ramadan dan Idulfitri kali ini akan sangat terasa berbeda, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi masyarakat desa. Jika pada Ramadan tahun lalu warga sesekali mengadakan tasyakuran di tiap rumah, tahun ini, ia pun tidak yakin kegiatan tasyakuran bisa dilakukan warga menjelang puasa.

“Kalau Idulfitri ramai ya biasanya, tapi tidak tahu tahun ini setelah musibah ini (banjir) tidak tahu. Tidak ada pemikiran (untuk melaksanakan tasyakuran) karena terkena musibah. Modalnya pun tidak ada. Bagaimana kita mau cari modal? Kita tidak bekerja,” ungkap Biryanto

Ramadan yang menjadi momen berharga umat muslim sisa menjadi harapan bagi Biryanto dan masyarakat terdampak banjir di Bengkulu. Bila sebagian umat menyambut Ramadan dengan segenap kemewahan yang dimiliki, Biryanto hanya berharap mampu melaksanakan ibadah ibadah Ramadan sebaik mungkin dengan kondisi yang mungkin tidak lebih baik dari tahun sebelumnya.