Dahsyatnya Zakat

Menjadi fadilah bagi kita yang ikhlas berzakat atas nama muslim yang tak sanggup berzakat.

Dahsyatnya Zakat' photo
Image Ahyudin
Pembina Aksi Cepat Tanggap

ACT sebagai lembaga kemanusiaan telah merekam dalam pikirannya, bahwa bangsa ini masih digayuti problem kemiskinan. Karenanya, banyak masyarakat Indonesia menjadi mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Kepapaan itu mereka alami karena terpaksa, baik karena terpapar bencana atau dilibas kesulitan hidup. Karenanya, amalan berzakat ini menjadi bertenaga, terutama ketika dibincang pada bulan Ramadan.


Zakat sendiri termasuk salah satu rukun Islam, yang amat penting setelah dua kalimat syahadat dan salat. Sedemikian pentingnya, sehingga amalan ini dikuatkan dalam pemahaman muslimin, bahwa membayarkan zakat merupakan kewajiban agama. Siapa pun yang sengaja meninggalkannya disebut kafir (murtad). Hal ini karena hakikatnya ia mendustakan Alquran dan As Sunnah (sebagaimana disepakati dengan ijma’ ulama). Termasuk di dalamnya, pembangkang atasnya (enggan bertaubat), menurut dalil syar’i boleh diperangi.


ACT sendiri memandang penting kebersamaan muslimin menunaikan kewajiban berzakat. Ada beberapa pihak berkepentingan dengan kewajiban ini. Pertama, muzaki atau siapa pun yang tergolong wajib berzakat. Kedua, mereka yang selain muzaki. Siapa mereka? Orang yang tak mampu berzakat. Ia ditanggung saudara muslim lainnya.


Menjadi fadilah bagi kita yang ikhlas berzakat atas nama muslim yang tak sanggup berzakat. Untuk golongan ini, ACT mengajak muslimin membayarkan zakat saudara muslim karena ketidakmampuannya berzakat (sehingga ia ditanggung muslim lainnya dalam menunaikan zakatnya). Tentu ini menjadi amaliyah yang besar pahalanya dalam Ramadhan ini.


Secara kolektif, pergerakan masif dalam pengelolaan zakat memberi maslahat kolektif yang bersifat manajerial. Dengan pengalaman yang teruji, baik secara administratif maupun implementatif, memberi maslahat lebih padu. Tanpa harus berpongah diri, bagi ACT, ukuran 14 tahun selalu diaudit Akuntan Publik dengan capaian "Wajar Tanpa Pengecualian" menjadi jaminan pengakuan (tentu pengawasan langit lebih kami perhatikan).


Pelanggar zakat


Tentang ancaman hebat bagi pelanggar zakat, dalilnya menyebutkan, “…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35).


Dalam pembahasan ihwal zakat, baik fadilah maupun ancaman, sama seriusnya. Mengiringi narasi itu, tak kalah dahsyatnya menyoal kebakhilan. Disebutkan, hal yang tak kalah hebat dalam soal amal ini, penggambaran tentang berbuat bakhil. Allah berfirman, “Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat”. (QS. Ali ‘Imron: 180).


Mungkin, kalau sekadar “dikalungkan” tidak menggetarkan, menjadi berbeda kala Allah memberikan penggambaran yang lebih dahsyat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang diberi oleh Allah harta kemudian ia tidak membayar zakatnya, maka akan dijelmakan harta itu pada hari kiamat dalam bentuk ular yang kedua kelopak matanya menonjol. Ular itu melilitnya kemudian menggigit dengan dua rahangnya sambil berkata: “Aku adalah hartamu, aku adalah simpananmu”. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. (HR. Bukhari)


Semoga kita dijauhkan dari lalai menyadari ekses kebakhilan. Semoga intensitas insan ACT – sahabat kemanusiaan – tidak terusik dengan rasa jenuh untuk mengingatkan sebanyak-banyaknya umat. Apalagi, para pembayar zakat disebut Allah pemilik salah satu sifat baik para penghuni surga. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta).” (QS. Adz-Dzaariyaat: 15-19).


Ungkapan lainnya, bahwa membayar zakat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman yang berhak diberi rahmat (kasih sayang) oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71). Juga, penyebutan lainnya, pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, dan harta (zakat)nya akan ditumbuh kembangkan oleh Allah . Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (QS. Al-Baqarah: 276).


Nabi berfirman, diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji kurma dari penghasilan yang baik (halal), dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal), maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.”


Ada pula dimensi penebusan yang menggembirakan orang-orang beriman: siapa membayar zakat, ia juga memperolah sasatu satu sebab dihapuskannya kesalahan dan dosa. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dan sedekah itu dapat menghapuskan dosa (kesalahan) sebagaimana air dapat memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi, dan Ahmad). Selain itu, disebutkan bahwa membayar zakat akan mensucikan harta dan jiwa pelakunya, menumbuh-kembangkan harta (zakat)nya, dan menjadi sebab terbukanya pintu-pintu rezeki. Dan yang jelas berkahnya akan melimpah. Allah Ta’ala berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Perkenankan, saudaraku, kita berlomba di dalamnya. Semoga Allah meridai.

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan