Empati

Kita coba menginventarisir spot empati itu. Kita mulai dari kumpulan rasa akan dampak bencana, seperti kehilangan, kekecewaan, kesakitan, kepedihan, ketiadaan, ketidakmampuan, dan lainnya.

Empati' photo
Image Iqbal Setyarso
Direktur ACT

Penghayatan pegiat kemanusiaan diawali dari kemauannya menelisik fenomena yang dicernanya. Ia mencoba mencari tahu sisi humanis yang bisa dieksplorasi, digali, dan dipaparkan. Ia memulai dari mencari tahu sisi empati yang bisa dihayatinya. Adakah rasa empati dalam dirinya? Pada sisi apa saja ia menumpukan empati itu? 

Kita coba menginventarisir spot empati itu. Kita mulai dari kumpulan rasa akan dampak bencana, seperti kehilangan, kekecewaan, kesakitan, kepedihan, ketiadaan, ketidakmampuan, dan lainnya.

Bencana dialamatkan pada kondisi fisik (alam) yang mengalami kejadian luar biasa, sehingga seseorang harus mengalaminya. Individu menghadapi situasi bencana alam, di mana ia bisa saja merasakan kehilangan materi maupun kerabat akibat diterjang bencana.

Kehilangan membuatnya menjadi bersedih. Kehilangan menjadikannya hanyut dengan perasaan itu. Kehilangan membuatnya kerap membayangkan kondisi sebelum ia mengalami hal itu. Kehilangan juga membuatnya menjadi membangkitkan ingatan, rasa rindu, memutar ingatan masa lalu. 

Kekecewaan menjadi item ingatan yang mengisi batinnya. Kekecewaan, satu ragam rasa yang membuat seseorang tak sanggup menahan diri terlalu lama. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan akhir: ia tak sanggup menutupi kekecewaan itu. 

Karena itu, satu hal lagi yang timbul: kesakitan. Kesakitan diekspresikan sebagai rasa yang timbul dalam diri saat seseorang mengalami rasa sakit yang hanya bisa dirasakannya dirinya. 

Berikutnya, timbul rasa yang lain: kepedihan. Kondisi ini berjangkit pada diri seseorang, yang membuat seseorang mengalaminya. Kepedihan membuat seseorang menghadapi ketidaknyamanan dan mengusik perasaannya.

Di sudut perasaannya, ada ketiadaan, salah satu hal yang membuat seseorang kehilangan kemampuan. Ia kehilangan keberartian, hal yang membuatnya tak sanggup berbuat banyak lagi. 

Dan akhirnya, apa yang dikatakan sebagai ketidakmampuan menjadi puncak dari perasaan dalam sebuah fase kehidupan. Di titik itulah, seseorang menghadapi tantangan hidup, agar bisa memulihkan diri, menemukan jati diri untuk hidup baik-baik saja, menormalisasi hidupnya.

Serangkaian label kehidupan yang singgah dalam diri seseorang,dikisahkan di sini sebagai ibrah. Bahwa, seseorang mengalami beragam rasa yang tidak nyaman untuk bisa menjadi titik balik penceritaan dan agar seseorang tak perlu berkepanjangan mengalaminya. Pegiat kemanusiaan hanyalah manusia biasa. Kadang, ada kalanya juga sedih dan hanyut. Untuk itu, kembali menormalisasi hidup, tegar, dan bangkit dari keterpurukan menjadi langkah positif.

Bagikan