Indonesia, Memberi Harapan Kemerdekaan Bagi Palestina

Sejarah perjuangan Indonesia mendapatkan kemerdekaan selama ratusan tahun lamanya, adalah harapan dan semangat bagi Palestina untuk meraihnya kelak.

Indonesia, Memberi Harapan Kemerdekaan Bagi Palestina
Image Andi Noor Faradiba
Senior Manager Global Humanity Network (GHN) ACT

“Saya selalu ingat kakek saya sering berkata; saya berharap kamu bisa merasakan dan hidup di negara merdeka. Saat ini saya berusia 60 tahun dan sekarang saya mengatakan hal yang sama kepada cucu saya," cerita Maha Abu Shusheh, Konsul Kehormatan untuk Indonesia di Palestina.

Dalam perjalanan, Grup Kerja Sama Bilateral Indonesia (GKSB) - Palestina sempat bertemu dengan Maha Abu Shusheh. Perempuan berumur 60 tahun ini merupakan Konsul Kehormatan untuk Indonesia di Palestina yang juga terkenal sebagai seorang pengusaha wanita sukses di Tepi Barat, Palestina.

Konsul Kehormatan RI di Ramallah bertugas untuk mendekatkan hubungan bilateral kedua negara, kerja sama ekonomi dan sosial budaya, melakukan promosi ekonomi, perdagangan, pariwisata, investasi, tenaga kerja dan jasa. Ia juga mendapatkan tugas tambahan untuk memberikan pelayanan dan perlindungan warga negara Indonesia dan badan hukum Indonesia.

Selama bertugas sebagai Konsul Kehormatan untuk Indonesia di Palestina enam tahun terakhir ini, Abu Shusheh sempat menjabat sebagai Ketua Forum Bisnis Wanita Palestina. Dia pernah pula berkarir sebagai manajer di perusahaan kontraktor milik keluarganya, Abu-Shusheh Contracting Co., sejak 1988. Abu Shusheh dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pengusaha Arab berpengaruh di Arab Forbes. Ia menjadi satu-satunya wanita Palestina yang masuk dalam daftar.

Pada kesempatan pertemuan bersama rombongan GKSB dan Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), Abu Shusheh menyampaikan apresiasinya atas dukungan penuh yang dilakukan oleh Indonesia. Baik dari dukungan diplomasi, ekonomi hingga kemanusiaan.

“Kalian memberikan kami harapan, bahwa pada akhirnya, okupasi Israel juga pasti akan berakhir. Saya sadar di usia saya saat ini mungkin tidak akan menjumpai kemerdekaan itu, tapi saya berharap anak cucu saya dapat merasakannya. Kalau tidak terjadi juga, maka kemerdekaan itu ditujukan kepada anak dan cucu mereka dan generasi selanjutnya,” demikian optimis Abu Shusheh pada pertemuan Selasa (24/5/2022) itu.

Jika melihat sejarah, Indonesia juga pernah mengalami penjajahan hingga sekitar 350 tahun lamanya oleh berbagai bangsa dan negara asing dan akhirnya mendapatkan kemerdekaan di tahun 1945, yaitu 76 tahun lalu. Perjuangan Indonesia untuk bebas dari penjajahan ini, menumbuhkan harapan masyarakat Palestina dan meyakini bahwa kemerdekaan bagi mereka juga bukanlah hal yang mustahil.

Abu Shusheh juga menyampaikan bahwa masyarakat Palestina mengetahui betapa Indonesia selalu menjadi yang terdepan memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Bukan hanya mendampingi atau menemani, melainkan berdiri di depan bersama masyarakat Palestina. Langkah-langkah diplomasi yang terus diusahakan pemerintah Indonesia hingga badan parlemen membuat ia yakin dan percaya bahwa Indonesia merupakan salah satu sekutu terbaik Palestina.

 

Dukungan Sektor Pariwisata Untuk Palestina

Selain membahas perjuangan, dalam kesempatan tersebut Abu Shusheh juga menyampaikan betapa dukungan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat Palestina sangat dibutuhkan khususnya di bidang turisme. Ia mengakui bahwa dengan berbagai regulasi serta check point yang berlaku, sulit bagi masyarakat muslim berkunjung ke Palestina.

“Tapi, mengunjungi Palestina (Yerusalem) itu seperti mengunjungi sanak saudaramu yang dipenjara dengan tidak adil, penuh dengan kesulitan dan ketidaknyamanan. Hal itu memberikan bantuan dan dukungan yang besar bagi mereka yang terpenjara,” terang Abu Shusheh.

Memang beberapa orang muslim yang pernah mengunjungi Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa mengatakan, bahwa titik pemeriksaan (check point) Israel memang dirancang untuk memberikan ketidaknyamanan dan pengalaman buruk bagi turis. Tidak jarang, mereka diwawancara berjam-jam. Di beberapa kasus, mereka diminta menunggu sendiri selama tiga sampai empat jam di satu ruangan tanpa pertanyaan apapun.

Semua turis sudah mengerti bahwa hal-hal semacam ini akan terjadi, namun proses interogasi dan perlakuan bak penjahat kerap membuat para turis tidak nyaman dan kelelahan. Bagaimanapun semua proses interogasi dan pemeriksaan yang menyebalkan hilang ketika mereka sampai, tergantikan dengan rasa syukur dan haru ketika mereka dapat melakukan salat pertama di Masjid Al-Aqsa.

Sementara dari kacamata pebisnis, Abu Shusheh melihat adanya kesempatan dan potensi besar dari masyarakat Indonesia dalam penguatan turisme Palestina. Untuk menuju hal tersebut, dibutuhkan persiapan dan langkah teknis yang pasti seperti mempersiapkan Yerusalem yang ‘ramah’ bagi pelancong Indonesia, membekali usaha-usaha kecil Yerusalem untuk memenuhi kebutuhan turis, serta memberikan pelayanan berbasis bahasa Indonesia mulai dari menyediakan buku panduan turis, pemandu wisata yang cakap, sampai menyajikan menu makanan yang bersahabat.

Beliau juga mengemukakan ide bagaimana seharusnya juru masak di Palestina dibekali dengan pelatihan mengolah masakan Indonesia agar lebih menarik minat masyarakat untuk datang mengunjungi Yerusalem. Dukungan usaha-usaha lokal untuk memperkenalkan kebutuhan turis Indonesia maupun Asia Tenggara, mengajarkan Bahasa Indonesia untuk pemandu wisata, juga bisa dilakukan sebagai langkah strategis lainnya.

Sejalan dengan aspirasi Abu Shusheh, Tim ACT menyampaikan bahwa animo masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke Palestina sebetulnya sangat besar. Tidak jarang, tim ACT mendapatkan pertanyaan dari donatur dan masyarakat publik tentang bagaimana caranya agar mereka bisa berkunjung ke Yerusalem dan salat di Masjid Al-Aqsa sekalipun mereka telah mengetahui bahwa perjalanan tersebut akan tidak mudah. Tim ACT juga menyampaikan harapan dari KBRI Amman maupun pemerintah Indonesia agar dapat berkoordinasi dengan masyarakat Indonesia dan Palestina untuk dapat membuka jalur turisme dan kerja sama penguatan ekonomi lainnya.

 

Audiensi Aksi Kemanusiaan ACT

Selain pertemuan dengan tokoh Palestina dan implementasi program kemanusiaan, tim ACT juga mengagendakan audiensi khusus bersama Duta Besar Indonesia untuk Yordania Ade Padmo Sarwono. Sejalan dengan koordinasi yang selalu ACT lakukan dengan semua badan pemerintahan terkait, tim Global Humanity Network (GHN) ACT juga menjalin hubungan baik dengan Kementerian Luar Negeri, khususnya KBRI, di negara-negara tujuan aksi dan implementasi program.

Dalam kesempatan tersebut, tim ACT menjelaskan tentang sejarah dan latar belakang berdirinya ACT, sebaran aksi di Palestina, program-program unggulan, rencana program jangka panjang, hingga problematika yang dihadapi selama melaksanakan tugas. Panggilan kemanusiaan bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Adanya stigma dan asumsi negatif dari banyak pihak seringkali menjadi hambatan pergerakan kemanusiaan global.

Hal ini disadari betul oleh Ade dan beliau menyampaikan pentingnya koordinasi antara lembaga kemanusiaan dan pemerintah. Beliau mengapresiasi kerja sama dan koordinasi yang dilakukan ACT selama ini dan berharap bahwa masyarakat Indonesia juga dapat dengan bijak memilih lembaga kemanusiaan yang kredibel agar niat baik kedermawanan tidak disalahgunakan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu dan tidak merepresentasikan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Tim ACT juga menjelaskan tentang pengelolaan dana bantuan yang amanah, yaitu sesuai dengan akad donasi masyarakat. Semua lembaga kemanusiaan yang berada di bawah naungan Global Philantrophy Society (GPS) Holding, yaitu ACT, Global Zakat (GZ), Global Wakaf (GW), dan Global Qurban (GQ) mendapatkan hasil audit eksternal dengan hasil Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di setiap tahunnya dan akan terus berkomitmen menjadi lembaga sosial kemanusiaan dengen kredibilitas dan akuntabilitas yang tinggi. []