Kebahagiaan Ketika Dermawan Berqurban

Dermawan yang berkurban akan membuat semua bahagia. Kebahagiaan ini menciptakan berkah di seluruh dunia, insyaallah.

Kebahagiaan Ketika Dermawan Berqurban' photo
Image Bobby Herwibowo
Dewan Syariah ACT

Sahabat dermawan yang dimuliakan Allah SWT, Iduladha sebentar lagi datang, dan salah satu amalan yang paling Allah SWT cintai di hari ini adalah menyembelih hewan kurban. Dan nanti, hewan kurban kita sendiri, dia yang akan datang kepada Allah SWT dengan berjuta kebaikan. Dari semua bulu, rambut yang ada di tubuhnya, bahkan tanduknya, kukunya, semuanya bersaksi pada Allah SWT atas ketakwaan kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Hajj: 37 yang artinya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Yang datang kepada Allah nanti bukanlah dagingnya, bukanlah darahnya, akan tetapi yang terpenting adalah ketakwaan yang berasal dari kita. Maknanya, Anda bisa berbagi daging apa pun dan kapan pun. Anda bisa bersedekah setiap saat. Tapi, yang Allah hitung adalah kedermawanan. Kedermawan di sini mengacu pada ketika setiap orang yang mampu menyembelih hewan kurban karena Allah SWT, seluruh muslim pada tanggal 10, 11, 12, 13 Zulhijah dilarang untuk berpuasa. Tahu kenapa? Karena semua orang ingin berbagi makanan. Ini adalah kedermawanan. Dermawan yang berkurban akan membuat semua bahagia. Kebahagiaan ini menciptakan berkah di seluruh dunia, insyaallah.

Sahabat dermawan, berbagi pada Hari Raya Kurban juga tidak hanya terbatas pada orang mampu saja. Merasa mampu dan tidak mampu hanya sebatas kemauan saja. Misalnya saja, ada orang yang bisa dibilang tidak mampu, tetapi ia ingin berkurban, punya kemauan untuk berkurban dan menyisihkan hartanya untuk itu, maka boleh baginya untuk berkurban.

Berbagi daging kurban di zaman globalisasi ini juga tidak terbatas pada tempat. Boleh jadi, mengurbankan hewan tidak kita lakukan sendiri tapi menyembelih hewan kurban diwakilkan kepada orang lain. Lalu bagaimana hukumnya? Rasulullah SAW juga pernah menyembelih 63 unta sendiri, sementara 37 unta diwakilkan oleh Sayyidina Ali RA. Jadi, maknanya boleh menyembelih kurban diwakilkan oleh orang lain.

Lalu ada pertanyaan lagi, bagaimana kalau menggunakan instrumen-instrumen uang elektronik untuk membayar kurban, sedangkan itu tidak dilakukan di zaman Rasulullah SAW? Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh lembaga Global Qurban. Daging-daging ini didistribusikan kepada saudara-saudara kita yang sepanjang tahun hampir tidak pernah memakan daging dan di sana ada maslahat yang besar.

Maka jawabannya adalah boleh, selagi tidak ada transaksi ribawi di dalamnya. Transaksi kurban seperti ini diperkenankan dan tidak dilarang, selama rambu-rambu yang terlarang dalam Islam tidak dilakukan di dalam transaksi tersebut.

Jika kita bicara data, kalau ada sekitar 260 juta penduduk Indonesia, dan umat muslimnya 238 juta orang, maka dari 238 juta ini, katakanlah yang dianggap orang kaya itu 1% saja, maka ada 2,3 juta orang yang  dianggap kaya di Indonesia. Jika mereka semuanya berkurban, selesai sudah kemiskinan. Hal ini karena industri pangan dan peternakan dan industri lain yang berhubungan dengan kurban, semuanya bergerak.

Lihatlah, dahsyatnya syariat Allah SWT. Wallahualam bishawab.[]

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan