Menolong Diri Sendiri

Hakikatnya, berderma bukan hanya untuk menolong orang lain, namun juga menolong diri sendiri.

Menolong Diri Sendiri' photo
Image Syamril
Direktur Sekolah Islam Athirah

Konser Kemanusiaan Sulsel Peduli Palestina berlangsung pada Sabtu (18/5) di Wisma Kalla Makassar berlangsung . Acara dimeriahkan oleh Melly Goeslaw dan siswa SD, SMP dan SMA Islam Athirah. Melly hadir menyanyikan beberapa lagu favoritnya seperti KCB dan Bunda.


Penggalangan dana seperti biasa dengan menawarkan paket bantuan dari 500 ribu rupiah hingga 20 juta rupiah. Alhamdulillah terkumpul dana lebih dari 418 juta rupiah.


Mengapa banyak yang tersentuh untuk membantu? Video paparan kondisi Palestina memang sangat memprihatinkan. Bayangkan, 7 dari 10 orang menderita kelaparan. Kekurangan air dan hanya 5% air yang layak dikonsumsi. Saat bulan puasa seperti sekarang mereka sudah bersyukur jika bisa berbuka puasa dengan air minum. Di saat yang sama, kita di Makassar berlebih makanan buka puasa bahkan air minum dalam kemasan gelas belum habis sudah dibuang.


"Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?" Ayat dalam surat Ar Rahman yang diulang  27 kali sangat cocok dan dipilih panitia jadi pembuka acara. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan dibandingkan dengan saudara kita di Palestina. Namun sayang, terkadang nikmat itu dianggap biasa saja atau malah "didustakan" dengan perilaku mubazir.


Lihatlah keseharian di masjid bagaimana penggunaan air untuk berwudu. Bisa jadi lebih banyak yang terbuang daripada yang terpakai dengan cara membuka kran air secara penuh. Padahal di Palestina begitu sulitnya mendapatkan air bersih apalagi air minum. Belum lagi listrik yang hanya mengalir 4 jam sehari. Di Makassar, listrik tersedia 24 jam non-stop. Teringat saat terjadi mati listrik karena kerusakan jaringan PLN. Saat itu, banyak warga yang pindah ke hotel karena tidak tahan kepanasan. Sementara Palestina hampir tiap hari mati listrik.


Saat Ramadan, banyak kegiatan penggalangan untuk menolong warga Palestina. Ini yang banyak dilakukan oleh lembaga kemanusiaan seperti ACT. Ramadan menjadi momentum di mana pahala dibalas berlipat ganda, ini menjadi motivasi tambahan.


Saat ikut di acara itu saya merenung apakah benar ini untuk menolong orang Palestina saja? Atau sebenarnya ini untuk menolong diri sendiri? Memang tampaknya membantu orang lain. Tapi hakikatnya membantu diri sendiri menjadi hamba yang bersyukur.


Selama ini Allah memberi nikmat yang banyak tapi rasanya biasa saja. Melihat gambaran kondisi Palestina yang demikian memprihatinkan, tumbuh rasa syukur atas nikmat yang selama ini Allah berikan.


Memberi juga membantu diri berempati dan menolong sesama. Selama ini kita bahagia karena menerima. Ternyata memberi itu lebih membahagiakan. Ada rasa bermakna karena bermanfaat.


Salah satu sifat dasar manusia yaitu egois. Inginnya diperhatikan. Juga inginnya mendapatkan bukan memberikan. Jadinya kadang kikir dan hitung-hitungan. Program membantu Palestina ini juga dapat membantu diri sendiri untuk lepas dari sifat kikir. Memberi tanpa mengharap kembali.


Pada akhirnya semua amalan kita di dunia sebagai bekal di akhirat. Jika infak yang dikeluarkan ikhlas karena Allah maka itu akan menjadi jalan menuju surga dan meringankan kita saat kelak hisab harta di akhirat.


Mari optimalkan Ramadan ini dengan menjadi manusia yang dermawan. Mari meniru Rasulullah yang dermawan dan semakin dermawan di bulan Ramadan. Dermawan untuk menolong orang lain dan juga menolong diri sendiri agar pandai bersyukur, berempati, peduli, tidak kikir, meraih pahala dan meringankan hisab harta menuju surga.

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan