Menuntut Akuntabilitas dan Pengakuan; Generasi Baru Palestina Mengambil Alih Estafet Perjuangan

Masyarakat Palestina memahami hanya people power yang bisa mendukung mereka. Mereka bergerak dengan cara mengedukasi sebanyak mungkin masyarakat dan menguatkan isu di pondasi tatanan sosial.

Image Andi Noor Faradiba
Manager Global Humanity Response ACT

Setelah beberapa dekade isu Palestine-israel menjadi ajang politik bagi kedua kubudan meninggalkan masyarakat Palestina menjadi objek bulan-bulanan kegagalan politisimasyarakat Palestina melihat saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil tindakan dengan tangan mereka sendiri.

Puluhan tahun dikecewakan oleh proses resolusi dari banyak pihak: pemangku kepentingan, negara dan tokoh yang tidak merepresentasikan rakyat, hingga media mainstream yang mengecewakanpara pemuda Palestina kini mengambil alih platform dan panggungnya sendiri, mendobrak status quo dan membuat seluruh dunia saat ini mempertanyakan kembali di mana mereka berpijak pada isu Palestina-israel. 

Dengan metode pendekatan dari akar rumput (bottom-up), masyarakat Palestina memahami hanya people power yang bisa mendukung mereka. Mereka bergerak dengan cara mengedukasi sebanyak mungkin masyarakat dan menguatkan isu di pondasi tatanan sosial. 

Pada era ini, metode pendekatan ini pergerakan generasi baru Palestina ini semakin menarik, yang mana media sosial menjadi sumber berita hampir semua orang. Pendekatan dari bawah ke atas ini mungkin sekitar 10 tahun yang lalu akan sangat sulit untuk digerakkan dan berhasil. Kini, semua itu menjadi sangat cepat dan membuahkan hasil di tahun 2021 ini. Kerja media mainstream yang kerap bias karena kepentingan pemodal sudah tidak memiliki otonomi mutlak akan informasi.

Sebagaimana yang dikatakan para pemuda Palestinayang tentu berseliweran di sosial media beberapa hari ini: ”you messed up with the wrong Generation

Hari ini setiap individu masyarakat Palestina dengan hanya bermodalkan telepon pintar dapat dengan mudah mematahkan propaganda israel yang selama berdekade mereka berikan kepada dunia sebagai konsumsi keingintahuan akan isu Palestina-israel. 

Alasan cengeng antisemitisme yang biasa israel angkat sebagai tameng kini sudah patah, rusak dan tak bisa lagi mereka gunakan sebagai justifikasi kejahatan yang mereka lakukan. The cat is out of the bag!

Seperti yang dikatakan Faisal Husseini, Politisi Palestina, “Israel sibuk menciptakan fakta-fakta mereka, dan lupa bahwa kamilah fakta sesungguhnya”.

- - - - - - - - - 

Namun metode bottom-up ini akan sangat bergantung pada sisi emosional dan momentum. Rangkaian kejadian di 2021 merupakan momentum yang sudah pernah terjadi sebelumnya berkali-kali. Seperti yang sudah-sudah, momentum ini sering kali hanya menjadi isu musiman. Proses kemerdekaan Palestina kembali lagi dari nol.

Palestina sudah sering kali mengalami fase-fase ‘hampir merdeka’, namun momentum di 2021 ini memiliki kelebihannya yang unik. Dapat kita lihat di beberapa bulan terakhir, momentum yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal energi dan juga keragaman dukungan yang datang dari dunia.

Gerakan akar rumput tidak hanya datang dari komunitas Palestina, Komunitas arab dan Muslim dunia. Hari ini dukungan untuk Palestina hadir dari banyak latar belakang yang berbeda. Gelombang dukungan ini tentu diharapkan dapat menjelma menjadi proses pembuatan keputusan politik yang berpihak pada Palestina. 

Menjawab tantangan perjuangan ‘momentum dan musiman’ ini, Husam Zomlot, Duta Besar Palestina untuk UK mengatakan, selain dengan terus menjaga isu dan momentumnya, hal yang bisa dilakukan dengan cara fokus pada tuntutan-tuntutan yang spesifik dan ringkas, khususnya di ranah-ranah hukum internasional yang sudah sangat jelas pedoman dan batas-batasnya. Selama ini, sayangnya ketika disandingkan dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh israel, yang bukti-buktinya sudah sangat jelas, hukum tersebut seketika tak berdaya (non-binding). Hal inilah yang harus didorong agar hukum tersebut harus diimplementasikan dan tidak ada lagi impunitas bagi israel.

“Meminta israel dan Palestina untuk negosiasi, sama artinya membiarkan serigala berada di ruang yang sama dengan domba. Kami (Palestina) memanfaatkan situasi sekarang, tidak hanya di arena politik. Selama 20, 30 tahun terakhir merupakan arena politik, solusi dua negara, negosiasi, kita sudah selesai dengan itu. Kami sudah cukup bernegosiasi selama 30 tahun. sekarang kami katakan: resolusi internasional sudah tidak di fase negosiasi, tapi di fase implementasi (hukum),” kata Husam.

Pada dasarnya ketika kita menyerukan kemerdekaan bagi Palestina, kita juga harus menuntut pengakuan dari pemerintah dunia atas status negara bagi Palestina. Sebab, akan sulit menuntut kemerdekaan bagi sebuah negara yang memang status kenegaraannya tidak menjadi afirmasi kolektif seluruh dunia. 

Adanya konsekuensi akan kejahatan Israel diharapkan juga memiliki dampak kepada publik untuk mengubah arah tendensi dan kepercayaan mereka yang mainstream tentang isu Palestina-Israel. Syukur-syukur dapat  mengubah tendensi masyarakat israel sendiri, karena mau tidak mau, untuk meraih people-power, juga harus mendorong warga Israel untuk melihat dan menyadari buruknya sistem pemerintahan mereka yang rasis, dan sistem tatanan sosial mereka yang berlandaskan nilai-nilai yang salah dan tidak bermoral.

Sedangkan pengakuan dunia (khususnya negara adidaya) akan status Negara Palestina, akan memberikan pesan pertama-tama kepada masyarakat Palestina dan juga ke seluruh dunia bahwa negara adidaya yang selama ini menggaung-gaungkan hak asasi manusia, serius ingin mewujudkan kedamaian di Palestina, dan bukan hanya bualan dan ‘Good PR’ semata.

Dunia juga harus melihat siapa saja yang ikut terlibat secara langsung dan tidak langsung dalam kejahatan Israel. Maka mengimplementasikan hukum internasional bagi Israel sama dengan mengimplementasikan hukum tersebut kepada negara-negara yang selama ini berdualisme logika; mengutuk agresi Israel di Gaza namun menjual senjata ke israel, mengecam perumahan ilegal di tanah Palestina namun mengambil keuntungan dari ekspor bahan bangunan ke Israel.

Maka, dibutuhkan kesadaran kolektif bahwa komitmen dunia akan perdamaian tidak bisa dilakukan setengah-setengah. civil society harus mengawal semua proses dan kebijakan yang dilakukan agar tidak ada lagi kemunafikan dan kerakusan manusia demi tujuan bersama memerdekakan Palestina.