Pengalaman Aksi, Ideologi Atasi Bencana Banjir

Berbicara prinsip, itu bicara ideologi. Kejadian banjir jika dilihat dengan prespektif ideologis, akan memperbesar pandangan kita, inilah visioner. Kuantitas bencana kasat mata, sekecil apa pun yang terlihat, harus diubah menjadi peluang militansi ukhuwah, militansi ghirah, militansi kemanusiaan umat.

Pengalaman Aksi, Ideologi Atasi Bencana Banjir' photo
Image Ahyudin
Pembina Aksi Cepat Tanggap

ACT mensyukuri 15 tahun berkiprah dalam mengelola filantropi bangsa. Kami memulai langkah dengan aksi penanganan bencana untuk negeri. Hingga kini, ACT senantiasa berikhtiar meringankan penderitaan umat di berbagai belahan dunia akibat kemiskinan maupun krisis kemanusiaan. Lompatan kepedulian bangsa hadir dalam dua tahun berturut-turut. Wabil khusus tahun kemarin, tatkala kepedulian besar timbul meski tidak dibarengi isu bencana. Lalu, mengapa lompatan kepedulian ini terjadi?

Kami meyakini, pengalaman ACT menjadi faktor utama menguatnya kepercayaan bangsa. Sebab, lompatan kepedulian bangsa bukanlah sebuah kebetulan. Ini lah sebuah formulasi. Berbekal pengalaman, lalu kemudian sebuah momentum hadir, lembaga ini menjadi pilihan bangsa.

Ada dua tipe pengalaman. Pertama adalah pengalaman yang bersifat umum. Yaitu, ketika ada sebuah momentum krisis kemanusiaan terjadi, memori setiap personal bangsa akan teringat berbagai aksi ACT dalam penanganan krisis ini. ACT terus hadir menemani setiap kejadian besar di Indonesia maupun luar negeri.

Yang kedua adalah pengalaman yang bersifat khusus. Yaitu, pengalaman besar ACT terjun dalam aksi-aksi penanganan bencana banjir dalam kurun waktu 15 tahun ke belakang. Semua masih mengingat, bencana banjir bandang terbesar yang pernah ACT tangani adalah peristiwa di Banjarnegara. Dokumentasi disertai kisah-kisah heroik terdahulu sepertinya dapat membawa kembali ingatan umat tentang jejak kepedulian bangsa.

Kita tidak menyangka, malapetaka banjir semasif ini terjadi di malam menuju 1 Januari 2020. Ketika musibah datang, ACT langsung menjejak ke titik bencana. Namun ada yang berbeda dari aksi pada umumnya. Perlu diketahui bahwa keunggulan ACT bukan hanya penanganan bencana saja. Kami juga berfokus pada dampak bencana. Dari sini kami menghadirkan ragam program penanganan kebencanaan agar besarnya militansi kepedulian umat terus terjaga. 

Kita harus melihat lebih jauh dan memahami makna bencana banjir. Jika kita hanya mengelola yang terlihat secara kasat mata saja, itu tidak menyelesaikan masalah. "Air naik itu banjir, air surut banjir reda", jangan sampai kita berpandangan seperti ini.

Dalam penanganan bencana, khususnya banjir, ACT memegang prinsip atau nilai-nilai tersendiri. Penanggulangan dampak banjir harus total, sekecil apa pun banjir itu. Jika diperlukan, kami memberangkatkan seluruh armada kemanusiaan kami yang ada untuk membantu warga terdampak banjir.

Penanganan bencana yang berdasar pada nilai ideologi akan direspons militansi kepedulian umat yang luar biasa menggetarkan. Dari sini, terobosan program-program unggulan hadir dengan spirit sarat nilai atau makna dari setiap kejadian. Resapi ayat-ayat qurani terkait banjir, agar tercipta gerakkan jihad amaliah, jihad kedermawanan, dan jihad kerelawanan.

Karena itulah, ACT tidak perlu menunggu gempa sebesar Lombok atau Palu untuk mengerahkan segenap kemampuan lembaga secra maksimal. Lembaga ini memahami dampak-dampak dari bencana apa pun selain banjir. Sebab dampak itu menstimulasi aksi, aksi menstimulasi narasi, narasi menstimulasi filantropi, filantropi menstimulasi benefit.

 

ACT sangat memahami dampak kebencanaan dan dampak program kemanusiaan sebagai solusinya. Pertama, dampak langsung dari banjir adalah masalah kesehatan. Jelas, ACT tidak boleh absen di situ. Kedua, banjir identik dengan kebutuhan pangan. Hadirnya banjir, berefek pada banyaknya orang tidak dapat bekerja. Akibatnya, asupan pangan para penyintas bencana juga terganggu. Pada tahap ini, ACT sudah memimpin. Kami menjawab hal tersebut dengan pendistribusian beberapa ton bantuan pangan. Ketiga, banjir identik dengan kebutuhan sandang karena semua pakaian sudah habis tersapu bencana. Pengungsi bisa jadi hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuh. Seragam-seragam sekolah bisa dipastikan lenyap, sebab bencana datang ketika sekolah tengah diliburkan.

Namun, apakah semuanya itu emosional? Belum tentu. Kejadian banjir bukan seperti kejadian gempa bumi. Gempa Lombok setahun lalu, banyak korban jiwa, rumah hancur luluh lantak, semua diberitakan secara emosional.

Banjir sangatlah berbeda, masyarakat tidak menyaksikan bahwa menjadi pengungsi amatlah menderita. Banjir itu silent disaster, kasat mata atau tidak terlihat. Namun, dampaknya tetap sangat besar. Dampak tersebut bisa bersifat sementara, maupun bersifat sistemik atau permanen.

ACT percaya bahwa umat ingin mengetahui dampak dari setiap bencana. Umat juga ingin melihat agenda-agenda aksi untuk menanggulangi dampak bencana tersebut. Oleh karenanya, menjadi sebuah kewajiban bagi kami untuk mempublikasikan setiap rencana-rencana aksi kemanusiaan.

 

Aksi yang biasa dilakukan saat banjir dapat berupa pemenuhan kebutuhan kesehatan, pangan, sandang, peralatan rumah tangga, kemudian peralatan sekolah. Meski biasa, pada dasarnya dampak aksi tersebut sangat luar biasa. Saksikan ketika siswa-siswa pertama kali hadir ke sekolah pascabencanaan banjir. Mereka pasti tidak membawa buku, tidak membawa tas. Bayangkan, tas mereka hanyut, bukunya hancur. Resapi kepedihan setiap anak yang ingin bersekolah, inilah dampak yang seharusnya kita elaborasi.

Ada harapan besar bahwa pada setiap dampak bencana dapat menstimulasi aksi kemanusiaan. Misalnya saja, ACT akan memobiliasi peralatan sekolah dalam skala besar. Kami akan umumkan 10 ribu siswa di Jabodetabek yang terkendala untuk bersekolah akibat banjir. Dari total tersebut, kami targetkan akan membagikan 10 ribu paket perlengkapan sekolah untuk anak. Untuk itu, terhitung hari ini, ACT akan terus menyajikan data dampak banjir, termasuk pada anak-anak sekolah.

ACT berpihak pada warga prasejahtera, banyak program kami yang hadir untuk membantu mereka. Beberapa di antaranya adalah Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) dan Sahabat Guru Indonesia (SGI). Seperti ini lah kami membuat nama brand, di mana nilai-nilainya masuk, militansinya masuk, nasionalismenya masuk, objeknya masuk. Program kami mengisahkan guru yang paling prasejahtera. Kami menjadikan guru sebagai sahabat. Lantas, mana ada sahabat yang membiarkan sahabatnya menderita? Ini lah nama program yang memiliki rasa.

Rasa ini yang perlu ditampakkan untuk menyelesaikan bencana banjir. Salah satunya, memunculkan rasa kehilangan rumah tinggal dari ribuan sosok yang kini terpaksa hidup tak beratap. Ribuan orang ini, bukan hanya kehilangan ijazah, tas, atau sepatu saja. Mereka kehilangan kehidupan dan penghidupan dengan tidak adanya tempat untuk beristirahat.

Ada pula fasilitas umat yang rusak akibat banjir, ada madrasah yang rusak, ada masjid umat yang juga rusak. Bukan hanya dari segi bangunannya saja, lihat pula iampact lainnya. Banjir menyebabkan sujudnya umat terganggu, karena karpet sajadah sudah tiada di tengah-tengah jemaah. Ini lah dampak kebencanaan, kebutuhan puluhan ribu meter karpet sajadah begitu besar.

 

ACT menginisiasi bantuan modal usaha untuk ekonomi informal di Jakarta. Sebanyak 85% korban banjir di sektor ekonomi di Jakarta adalah pengusaha-pengusaha informal. Mereka yang mendistribusikan barang dari pengusaha besar untuk dijual eceran, dengan utang. Ini menakutkan, sebab barang jualan mereka habis karena banjir. Sementara itu, utang menumpuk dan kini rentenir akan datang menagihnya. 

Ke depannya, ACT targetkan memberikan bantuan modal usaha untuk 10.000 pengusaha ekonomi informal. Saya teringat seorang ibu penjual sayur yang kehilangan gerobaknya saat banjir. Sebuah kalimat tercetus dari lisannya, "Besok saya tidak bisa jualan." Kalimat ini menunjukkan titik harapan hidup, sebab gerobak adalah lahan hidup mereka. Dampak banjir itu seluas itu, sebanyak itu, serumit itu, dan senyata itu. Benefitnya juga harus sekonkret itu.

Respons jangka panjang sedang dipersiapkan. Tidak boleh sedikit, katakanlah ada 100 ribu pengungsi banjir. Sebagiannya akan mendapat Waqf Card, sebuah kartu untuk mendapatkan bantuan rutin bulanan selama satu tahun. 

Bencana ini Allah hadirkan sebagai ujian perbaikan. Jangan sampai, ketika esok banjir usai, seolah-olah tidak ada peristiwa besar. Di titik itulah, kita gagal menjadi hamba yang luar biasa di hadapan Allah. Allah akan kecewa dengan kita karena kita tidak luar biasa meresponnya karena apa pun yang datang dari Allah pasti luar biasa. Sebaliknya, apabila kita melakukan amal-amal besar dan kita yakin, semoga Allah semakin rida dan semakin memberikan rahmat mahabbah kepada kita semua.

Bagikan