Ramadan dan Puasa: Meriangkan Batin yang Papa

Ramadan menjadi momen bagi kita untuk membahagiakan mereka yang dirundung konflik dan bencana.

Image Iqbal Setyarso
Direktur ACT

Sepanjang 2019, tak terbayangkan panjangnya efek pasca bencana. Dalam waktu yang relatif lama, tak mungkin mengganti perumahan yang hancur akibat tsunami di Sulawesi Tengah, Banten dan Lampung, serta di Lombok. Dalam semarak ibadah Ramadan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah,dan kawasan Banten (dan Lampung), pada tempat-tempat itu, pemerintah belum bisa mengganti rumah-rumah warga yang hancur akibat bencana.


Selain itu, tukang bangunan maupun materialnya untuk membangun pun masih harus disewa dan dibeli. Para tukang juga masih memilih beribadah puasa sehingga para korban yang kehilangan rumahnya kebanyakan masih menjadi pengungsi. Yang beruntung, itu pun sebagian kecil, mendapat rumah hunian sementara.


Kami tahu, pada momentum ibadah puasa ini yang ada pasti bukan keriangan. Dalam suasana seperti ini, justru ACT hadir. Dari empati banyak cabang di banyak daerah di Indonesia, banyak hati layak diketuk, banyak batin berharap keridaan Allah. Pemantiknya adalah masyhurnya keutamaan amal Ramadhan, terutama bagi mereka yang diuji dengan cobaan. Salah satunya adalah bangsa Palestina. Belum lama ini menjelang datangnya bulan puasa, Israel memporak-porandakan pemukiman di jalur Gaza, termasuk mengebom bangunan Kantor Berita Anadolu Agency di jalur Gaza.


Masyhur pada mindset muslim Indonesia, bahwa Ramadan adalah bulannya meningkatkan pahala. Saat ini sangat layak berbagi, terutama saat umat sangat rendah daya belinya. Terlebih kemiskinan sedang memperlihatkan wajah kemiskinan akut. Tak perlu upaya berlebih. Menyapa penyintas bencana alam saja, pasti bisa dengan mudah mendapatkan orang-orang papa. Mereka jelas hidupnya patut dibantu, termasuk yang tengah dibelit perang dan penjajahan. Tempat di mana cobaan datang, niscaya menjadikan penghuninya beribadah dengan sangat khusyuk.


Yang di kawasan bencana atau konflik, khusyuk; sebagaimana yang terpanggil berbagi untuk sesama juga khusyuk. Ada keyakinan, amal yang jauh dari rasa empati akan menjadi kering. Jadi, basahi diri dengan empati untuk saudara-saudara yang menderita kemalangan. Jadikan amal Ramadan kita berbalut empati dan simpati. Doa kita menjadi lebih afdal dengan kepedulian kepada sesama.