Ramadan Terasa Begitu Cepat Berlalu

Ramadan pergi menyisakan Covid-19. Bagi muslimin, dalam perspektif keimanan harus menyikapinya dengan keriangan baru. Benar bulan penuh berkah akan pergi, namun ragam keberkahan yang lain menggantikan. Kita menyambut masa pandemi tersebut sebagai momentum amal saleh yang baru.

Ramadan Terasa Begitu Cepat Berlalu' photo
Image Iqbal Setyarso
Direktur ACT

Benar, kata sejumlah muslim, setelah melalui Ramadan di pertengahannya, berakhirnya akan terasa cepat. Hari keberkahan itu akan lekas berlalu. Setahun mendatang baru akan ada lagi. Kapan lagi akan berkunjung “bulan mulia”, kapan lagi salat kita, puasa kita, doa-doa kita akan begitu leluasa diijabah Allah? Kapan lagi “hidangan Ilahi” akan kita santap dengan kegembiraan? Kapan lagi tidur kita akan dinilai ibadah, apalagi sunah-sunah kita tentu akan berlipat pahalanya? Saya pun dilibas degup perpisahan dengan Sang Ramadan. 

Perpisahan pun mendekat, menyatukan perasaan untuk menggugah amal, menggelorakan rasa berbuat baik, sementara yang belum pergi adalah wabah Covid-19, masih setia bersama kita, menyediakan peluang untuk bersedekah, memastikan diri untuk kesediaan kita mengerjakan amal saleh pada Ramadan ini. Ya, Covid-19 seakan membentangkan dirinya untuk amal saleh kita, meski bulan berkah itu tengah bersiap pergi. 

Seakan tahu Ramadan akan pergi, otoritas medis, menteri, kepala daerah bahkan kepala negara mendahuluinya, mengumumkan perpanjangan masa darurat Covid-19. Kabar itu memicu kekecewaan warga Indonesia bahkan dunia, bahwa wabah itu masih eksis. Ramadan pergi menyisakan Covid-19. Bagi muslimin, dalam perspektif keimanan harus menyikapinya dengan keriangan baru. Benar bulan penuh berkah akan pergi, namun ragam keberkahan yang lain menggantikan. Kita menyambut masa pandemi tersebut sebagai momentum amal saleh yang baru.

Realitas itu menghidangkan peluang baru, keriangan baru untuk amal saleh lainnya. Orang-orang yang kehilangan penghasilan, sektor informal yang kehilangan konsumen, lapisan mustahik baru, barisan saudara-saudara kita yang layak memperoleh santunan amal saleh, mengisi lapisan penerima amal saleh kita. Mereka menanti amal saleh kita yang memiliki materi. Mereka menghadirkan diri di masa pandemi ini dengan keterbatasannya. Adanya mereka yang tak berpunya, apalagi dalam musim pandemi, mengisi kekosongan ruang beramal saleh. 

Kedermawanan telah meleluasakan kita dengan amal saleh, dan memampukan kita dengan apa pun yang bisa kita berikan untuk sesama. Sisa Ramadan, kita dapat memaksimalkan beramal saleh di kala pandemi. Di luar sepengetahuan kita, seorang ibu empat anak sampai meninggal karena kelaparan, setelah hanya minum air galon. Hal itu membuat kita sedih. Kesulitan ekonomi yang disandang suaminya sebagai kepala keluarga, tak mampu menghidupi istri dan anak-anaknya. Warga prasejahtera seperti beliau, hanya menggantungkan hidupnya dari menjual rongsokan dan sangat sulit  untuk menghidupi diri dan keluarga. Terlebih, wabah Covid-19 tengah merajalela. Kita dengan rezeki yang kita miliki niscaya bisa menghadapi walau dengan keterbatasan, orang lain. Kondisi ini yang memungkinkan meleluasakan keberkahan, tanpa melihat secara fikih, saat Ramadhan atau bukan Ramadan. Kondisi krisis menjadi momentum itu. Kesulitan ekonomi, terutama bagi yang lapar, meleluasakan keberkahan. Karena seseorang dalam keadaan lapar, ia menjadi pintu keberkahan bagi yang mengusir rasa laparnya.

Bagikan