Setelah Ramadan Berlalu

Berlalunya Ramadan tidak serta merta menghentikan segala amal kebaikan. Pandemi masih berlangsung, sementara ibadah kurban menanti. Ladang amal tak pernah tertutup bagi insan-insan peduli.

Setelah Ramadan Berlalu' photo
Image Iqbal Setyarso
Direktur ACT

Istilah “mereka menang banyak” nampaknya cukup menggambarkan kondisi Ramadan lalu. “Mereka” mengacu pada musuh-musuh kebaikan. Mengapa? Covid-19 telah melenyapkan banyak kesempatan berbuat baik. Alquran pada empat belas abad silam sudah berpesan, “setan itu musuhmu yang nyata”. Intensitas pengabaian kerja-kerja kebaikan  selalu ada bagi para pegiat kebaikan. 

Momentum memulai hari-hari aktif, bekerja normal setelah Ramadan, datang mengingatkan. Dewan Penasehat ACT berpesan: jangan pernah letih berbuat baik. Kami diingatkan, beberapa hal tak boleh dibiarkan begitu saja. Humanity Food Truck jangan berhenti melayani. Aktivitas memberi santunan untuk korban perang yang hari ini masih mengungsi dan masih dijajah, dilanjutkan. Para penjaga Masjid Al-Aqsa, tetap kita santuni. Mereka telah menggantikan kita menjaga Masjid Al-Aqsa, tetap mengumandangkan azan, sebagai kompensasi ketidakhadiran kita menjaga Masjid Al-Aqsa, kita membantu semua ikhtiar untuk menjaga aktivitas ritual itu tidak putus. Sampai tiba Allah memberi kemenangan dan memerdekakan Palestina. Seperti saya yang kini tidak seleluasa sebelumnya dalam menjalankan aktivitas pengajian Ahad pagi, salat wajib lima waktu di masjid, bahkan salat Jumat berjamaah di masjid besar, tidak seperti dulu lagi. 

 

Perbincangan di musala Husnul Khatimah yang ada di kompleks perumahan tempat saya tinggal, menolong saya untuk tetap istikamah. Salah satunya, Ketua Dewan Kemakmuran Musala (dan Masjid) mengatakan, ”Dalam Ramadan yang lalu, kita merasakan suhu udara beberapa waktu terasa panas. Salah satu sebabnya, saya kira wabah Covid-19 ini berpengaruh pada menurunnya aktivitas tawaf di sekitar Ka’bah. Karena itu, ada yang hilang dari biasanya. Yang biasanya melakukan tawaf, kini jumlahnya berkurang sekali atau bahkan tidak ada.” Yang pasti, dalam perasaan kami sangat kehilangan besar terkait tidak adanya atau menurunnya jumlah orang yang tawaf. Bisa dibayangkan dalam kondisi normal, banyaknya orang yang melaksanakan tawaf, baik dalam rangkaian ibadah haji atau tidak. 

Bulan Syawal ini, bukan saja membuat saya tiba-tiba merindukan Ramadan lagi, tapi juga membuat saya rindu baitullah.  Kapan lagi aku akan melaksanakan tawaf sekaligus sekaligus menunaikan haji?  Ya Allah, dengan kuasa-Mu lenyapkan wabah Covid-19 ini. Kami tetap mensyukuri yang engkau karuniakan, dengan itu Engkau telah jadikan hamba-hamba-Mu yang bersyukur mampu menyukurinya dengan menunaikan amal kedermawanan. Terima kasih Engkau masih memberi kami hidup, sehingga juga memberi kami kesempatan menjalani Syawal hingga sampai nanti Kauperjumpakan lagi dengan Ramadan 1442 H tanpa wabah dan tanpa bencana alam. Insyaallah dengan apa yang Engkau berikan, kami bisa beramal dengan kedermawanan dari karunia-Mu. Kami mensyukuri nikmat-nikmat-Mu, dalam Syawal 1441 H ini kami berikhtiar untuk menata amal kedermawanan berikutnya. Telah menanti kegembiraan berikutnya, menunaikan ibadah kurban. 

Semoga menjelang pelaksanaan kurban nanti, dengan kedermawanan melalui ibadah kurban, Allah mencabut wabah Covid-19. Dengan itu pula Allah pun memberi kedamaian bagi semesta. Hanya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk wabah. Tulisan ini juga memuat harapan para filantropis yang mengharapkan Engkau perkenankan kami semua beribadah salat Iduladha tanpa wabah, semua berlebaran haji dengan aman tanpa kekhawatiran apa pun.

Kami telah menjalani ketetapan-Mu atas pandemi ini, dengan mematuhi protokol yang ditetapkan pemerintah dan ulama, tidak mudik, tidak berkerumun, bahkan salat tarawih di rumah bersama keluarga. Dengan sejumlah ikhtiar itu, jadilah kami pribadi yang lahir batinnya siap. Dengan kepasrahan setotal itu, mudah-mudah Engkau terus memberikan keselamatan bagi kami hingga pandemi ini berakhir. Dan semoga Engkau mudahkan ikhtiar kami untuk mengajak muslim, minimal di Indonesia, untuk berkurban. Amiin ya Rabbal ‘Alamin.